oleh

Pesan & Wejangan Mohammad Natsir Kepada Umat Islam Indonesia

-Berita-304 Dilihat
Mohammad Natsir[net]

SriwijayaAktual.com – Pada suatu hari, Bapak Mohammad Natsir (M. Natsir) (alloohu yarham) bercerita di
hadapan Pak Sukayat (alloohu yarham) dan saya (M. Amin Djamaluddin) di
kantornya DDII Jl. Kramat Raya no. 45 Jakarta Pusat.
Pak Natsir berkata, “Suatu hari, Presiden Ir. Soekarno datang menemui
saya (M. Natsir) dan berkata, 
“Saudara Natsir, saya serahkan negara ini
kepada Saudara!” Kedatangan Presiden Soekarno menemui Pak Natsir itu,
disebabkan Indonesia ini sudah tidak ada lagi, dan yang ada adalah
negara serikat yang bernama RIS (Republik Indonesia Serikat) yang sudah
terbagi menjadi 16 (enam belas) negara bagian.
Setelah didatangi oleh Presiden Soekarno tersebut serta mengatakan
perkataannya, “Saya serahkan negara ini pada Sdr. Natsir!” maka Pak
Natsir segera menemui gurunya, A. Hassan.
Kepada gurunya A. Hassan, Pak Natsir menceritakan bahwa Presiden
Soekarno telah datang menemuinya, dan Bapak Presiden telah menyerahkan
negara ini (Republik Indonesia) kepada saya. “Adakah saran dari Tuan
Hassan dalam masalah ini?” Pak Natsir meminta petunjuk dari gurunya A.
Hassan.
Sejenak kemudian, A. Hassan pun menjawab,
“Ingat Sdr. Natsir, waktu dinding Ka’bah roboh terkena banjir, dan
Hajar Aswad terbawa banjir, pada waktu itu, seluruh kabilah Quraisy
berebut untuk mengembalikan Hajar Aswad tersebut ke tempatnya semula.
Pemimpin kabilah yang ini mengatakan bahwa mereka lah yang berhak untuk
mengembalikan Hajar Aswad ke tempatnya semula. Sedangkan pemimpin
kabilah yang lain mengatakan bahwa mereka lah yang berhak untuk
mengembalikan Hajar Aswad ke tempatnya.
Pendeknya, perebutan untuk mengembalikan Hajar Aswad ke tempatnya
semula hampir membuat perpecahan di antara kabilah-kabilah Quraisy di
Mekkah pada saat itu.
Akhirnya Muhammad bin Abdullah mengadakan rapat dengan semua pemimpin
kabilah Quraisy tersebut. Pada saat itu, Muhammad bin Abdullah belum
menjadi Nabi dan Rasul, karena baru berusia 25 tahun. Rapat tersebut
memutuskan bahwa yang berhak mengembalikan Hajar Aswad ke tempatnya
semula adalah orang yang paling dahulu masuk Masjidil Haram nanti Subuh.
Ternyata, orang yang paling dahulu masuk Masjidil Haram adalah beliau
sendiri (Muhammad bin Abdullah). Menurut keputusan rapat berarti
Muhammad bin Abdullah lah yang berhak mengembalikan Hajar Aswad tersebut
ke tempatnya semula.
Akan tetapi, apa yang beliau lakukan? Muhammad bin Abdullah
meletakkan Hajar Aswad tersebut di atas sehelai kain tebal, kemudian
beliua mengajak semua pimpinan kabilah-kabilah Quraisy itu untuk
sama-sama memegang kain yang di atasnya ada Hajar Aswad tersebut,
kemudian mengangkatnya bersama-sama dan dengan tangan beliau lah Hajar
Aswad tersebut diletakkan di tempatnya semula. Akhirnya terhindar lah
perpecahan di antara kabilah-kabilah Quraisy pada saat itu”.
Mendengar kisah ini, akhirnya Pak Natsir menemui semua presiden RIS
(Republik Indonesia Serikat) seorang demi seorang. Pak Natsir mengajak
seluruh presiden RIS untuk kembali ke RI (Republik Indonesia).
Setelah berkali-kali Pak Natsir menemui semua presiden RIS tersebut,
akhirnya semuanya sepakat untuk kembali ke RI (Republik Indonesia).
Kemudian, setelah semua presiden RIS setuju untuk kembali ke RI,
barulah Pak Natsir membawa masalah tersebut ke Majlis Konstituante, yang
menghasilkan keputusan bahwa Negara Indonesia adalah Negara Kesatuan
Republik Indonesia (NKRI) dan bukan RIS.
Bagaimana sulitnya mengembalikan RIS tersebut menjadi NKRI, sangat
luar biasa, menurut cerita Pak Natsir. Oleh sebab itu, Pak Natsir
berpesan kepada seluruh umat Islam Indonesia dengan mengatakan bahwa
NKRI itu adalah harga mati, jangan coba-coba diganggu gugat oleh kalian.
Kalau kalian ingin menegakkan hukum Islam di NKRI, maka kalian harus
membuat partai politik yang benar-benar islami dan pilihlah calon-calon
anggota DPR RI dan MPR RI dari orang-orang yang benar-benar islami.
Sehingga, jika partai-partai kalian tersebut menang di Pemilu, maka
anggota DPR RI yang telah dipilih oleh rakyat bisa membuat UU yang
berdasarkan hukum Islam. Cara ini lah yang harus kalian perjuangkan.
Selain itu, Pak Natsir juga berpesan kepada saya (M. Amin
Djamaluddin) pada saat beliau sedang berbaring sakit, tepatnya sewaktu
saya memijat kaki beliau di atas tempat tidurnya di rumah beliau, “Sdr.
Amin, Kramat Raya 45 Pusat Dewan Da’wah itu adalah markas perjuangan
umat Islam, jangan Saudara tinggalkan Kramat 45 itu!”. [AK] 
Oleh M. Amin Djamaluddin
(Direktur LPPI / Staf Khusus Pak Natsir dalam Bidang Aliran Sesat)

Komentar