Berita  

‘Politik & Sabung Ayam’

Sabung Ayam/Ilustrasi

SriwijayaAktual.com – Sabung ayam merupakan kegiatan yang dapat
dikatakan sebagai hiburan oleh sebagian kalangan masyarakat yang hobi
untuk itu, tetapi juga sebagai kesempatan untuk berjudi. Dalam kegiatan
sabung ayam ini, ayam-ayam jago yang memiliki kualitas berkelahi yang
tangguh diadu dalam arena yang dipagari. Ayam jago diadu untuk mematikan
atau mengalahkan ayam jago yang lainnya. Ayam jago berusaha untuk
mematikan lawannya dengan sebilah pisau kecil yang diikat pada tajinya.

Penonton
yang menyaksikan kegiatan itu terhibur. Selain terhibur, mereka tidak
segan-segan untuk berjudi. Demikian halnya politik di Indonesia saat
ini, tidak berbeda jauh dengan kegiatan sabung ayam. Untuk itu, politisi
yang maju untuk berkompetisi harus dapat mempersiapkan mental. Hal ini
sangat dibutuhkan sebab membaca kegilaan politik di tahun-tahun
belakangan ini cukup menguras waktu, otak dan tenaga, dan juga
finansial.

Bangsa Indonesia dihadapkan kembali pada fenomena
politik, hukum, dan moral. Hal ini tampak bahwa belum ada yang berubah
dari pelaksanaan kampanye. Kampanye terkesan biasa-biasa saja, dan tidak
ada sesuatu yang membuat publik ingin terlibat. Begitu juga dengan
gagasan dan ide yang ditawarkan, juga tidak ada yang istimewa.

Sutan Syahrir, tokoh sosialis radikal dan juga Perdana Menteri
RI di zaman Orde Lama dalam sistem Kabinet Parlementer pernah berkata,
“Politik bukanlah sekadar perhitungan, melainkan bertindak etis,
berbuat, dan bersikap moral tinggi. Para pemimpin harus menjadi pahlawan
laksana para nabi.”
Namun, praktik politik saat ini justru
sarat dengan berbagai perhitungan yang penuh aroma spekulasi sebagaimana
halnya sebuah perjudian yang mengejar sejumlah kemungkinan dalam
ketidakpastian. Maka definisi politik sebagai seni mengubah
ketidakmungkinan menjadi hal yang mungkin semakin mendapat legitimasi
sosial tanpa moral.
Politik, khususnya dalam kontestasi
pemilihan presiden, telah diwarnai hitung-hitungan melalui mekanisme
survei popularitas, akseptabilitas, dan elektabilitas. Praktik politik
masa kini hampir pasti tidak bisa dimenangkan tanpa digerakkan dengan
uang, dan uang itu juga harus didayagunakan dan diperlakukan seperti
halnya memainkan dadu di atas meja judi. Harus berani mengambil
keputusan berdasarkan hitung-hitungan spekulatif.
Tidak ada
teman sejati dalam perjudian. Yang ada hanya teman dalam persekongkolan
untuk menang. Idealisme telah tergusur oleh pragmatisme. Menghalalkan
segala cara untuk menang semakin mendapatkan momentumnya. Inilah masa di
mana politik sebagai seni dan idealisme serta ilmu pengetahuan dan
etika mencapai puncak krisisnya.
Rakyat tertipu dalam buaian
para politisi. Rakyat begitu sulit bersatu untuk memperjuangkan
kepentingannya. Namun, di sisi lain rakyat begitu mudah dipersatukan
melalui event politik demi kepentingan para politisi. Rakyat
semakin mudah dibentuk dalam politik kepentingan, juga mudah saling
berbenturan di antara mereka sendiri demi memenuhi kehendak patron
politiknya. Rakyat terkotak berdasarkan partai pendukung dan juga figur
atau politisi.
Itulah gambaran situasi politik bangsa Indonesia
akhir-akhir ini. Sebuah potret buram demokrasi kita, akibat transformasi
politik yang salah arah dan gagal.
Politik dalam pandangan
masyarakat akar rumput bagaikan kegiatan sabung ayam. Dan, masyarakat
menikmati dunia percaturan politik seperti mereka menikmati ayam jago di
dalam arena sabung ayam. Ayam jago ibaratkan kandidat yang bertarung di
arena politik. Dan, masyarakat pun telanjur menikmatinya. Menunggu ada
yang keok, lalu bersorak, bahkan mengejek. Hasrat ejek-mengejek inilah
yang kini menguasai psikologi politik kita, mencari kepuasan dalam
kedunguan lawan.
Dalam pileg dan pilpres yang menjadi kekuatan
adalah visi dan misi setiap kandidat. Seperti halnya ayam jago dalam
arena sabung ayam yang menjadi kekuatannya adalah tajinya. Politik
adalah kecerdasan. Kecerdasan dalam memikat hati masyarakat khususnya
pemilih. Kecerdasan untuk membungkam lawan. Kecerdasan untuk melihat
waktu yang tepat untuk mematikan lawan. Politik adalah pikiran. Pikiran
yang dijabarkan dalam visi dan misi. Pikiran untuk mencari solusi dalam
menyerang lawan.
Duel politik tak lagi bermutu. Gagasan dihapus
oleh hiruk-pikuk ejekan. Sensasi dirayakan, esensi diabaikan. Rasa gagah
memenuhi dada ketika ejekan disambut gempita oleh sesama pendukung.
Sahut-menyahut di ruang sosial melambungkan kebanggaan kubu. Semacam
ketagihan massal, ejekan menjadi obat perangsang politik. Ini adalah
gambaran demokrasi bangsa Indonesia di era Reformasi. Hal ini tidak
dapat dipungkiri. [*]

Oleh, Yoseph Yoneta Motong Wuwur alumnus Universitas Flores, Ende 
(mmu/kolom-pembaca/detik)

Spesial Untuk Mu :  Patroli Grup WhatsApp, "Ketakutan Rezim Jokowi Atas Suara Rakyat"