oleh

PRD Ikut Pemilu 2024, Ada Wacana Pakatan dengan PSI dan Garbi

JAKARTA, SriwijayaAktual.com – Pasca perayaan ulang tahun ke-23 PRD
(Partai Rakyat Demokratik), akhir Juli lalu, pengurus dan aktivis partai
mewacanakan untuk menyiapkan partai yang dikenal sebagai musuh nomor
satu orde Baru itu untuk mengikuti Pemilu 2024.

Ketua Umum PRD Agus Jabo Priyono menyatakan bahwa organisasinya tengah
mengurus segala persyaratan yang diperlukan untuk bisa menjadi kontestan
pemilihan legislatif lima tahun mendatang. Terakhir PRD ikut Pemilu
pada tahun 1999, dan hanya mendapatkan suara nasional kurang dari satu
persen.

Niat PRD untuk berkonsolidasi mengikuti Pemilu 2024 mendapat sambutan
beragam dari mantan aktivisnya yang kini berdiaspora di berbagai partai
politik, institusi pemerintahan dan bisnis, lembaga swadaya masyarakat,
serta perguruan tinggi. Banyak yang menyatakan pesimisme, namun tak
sedikit yang menyemai optimisme dan menyemangati.

Dita Indah Sari, mantan Ketua Umum PRD yang saat ini menjadi Wakil
Sekjen Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) menyambut positif rencana
kawan-kawan lamanya membangun kembali PRD. Namun ia mengingatkan bahwa
persaingan dalam politik elektoral saat ini sangat berat.

“Kawan-kawan tentu sudah punya hitung-hitungannya, bagaimana peluangnya
jika ikut Pemilu. Ya diujicobakan saja. Tentu, partai baru dan kecil
harus memiliki strategi politik yang kreatif untuk mengatasi
keterbatasan sumber daya politik yang dimiliki,” kata Dita dalam
perbincangan dengan redaksi di kantor Kementerian Desa dan PDTT,
Kalibata, Jakarta, Rabu (31/7/2019).

Wacana pembentukan pakatan atau fusi yang melibatkan PSI (Partai
Solidaritas Indonesia) dan Garbi (Gerakan Arah Baru Indonesia) yang
dilontarkan oleh beberapa mantan aktivis PRD ditanggapi secara kritis
oleh Dita.

“Gagasan peleburan tiga organisasi itu boleh-boleh saja diuji, tapi
menurut saya dalam berkoalisi sebaiknya mencari sekutu yang efektif
supaya gagasan kita lebih cepat berkembang,” ujarnya.

Menurut Dita, sebagai embrio partai baru, Garbi belum teruji. Ia pun
belum mengetahui platform organisasi tersebut. Sedangkan PSI, meski
menorehkan prestasi lumayan dengan meraih kursi DPRD di beberapa daerah,
tetap memiliki hambatan untuk bermanuver di level tertinggi.

“PSI tidak memiliki kursi di DPR, itu yang menyulitkannya berkiprah di
tingkat nasional,” lanjut mantan tahanan politik (tapol) Orde Baru ini.

Karena itu, ia meragukan PSI dan Garbi dapat menjadi sekutu yang efektif
bagi PRD untuk kontestasi demokrasi lima tahun mendatang.

“PRD saat ini masih kecil sekali. Kalau bersekutu dengan yang yang juga
kecil, energi dan tenaga akan habis menjawab berbagai serangan yang
tidak perlu. Sementara itu, misi utama untuk mempengaruhi politik
pengambilan keputusan tidak akan terjadi jika energi terkuras habis di
isu-isu yang tidak substansial,” jelasnya. [rm]

Komentar

Banyak Berita Terhangat Lainya