oleh

Presiden Jokowi Jengkel 33 Perusahaan Cabut dari China Tapi Tak Lirik RI

-Berita-264 Dilihat
Ilustrasi

JAKARTA, SriwijayaAktual.com – Presiden Joko Widodo (Jokowi) kemarin,
Rabu 4 Agustus 2019 mengumpulkan para menteri dan pejabat ekonomi.
Jokowi memimpin rapat terbatas (ratas) untuk mengantisipasi perkembangan
perekonomian dunia.

Saat membuka ratas, Jokowi mengatakan Indonesia harus sedia payung
sebelum hujan, yaitu mengantisipasi kemungkinan terjadinya resesi yang
ada di dunia. Satu-satunya cara yang menurutnya ampuh adalah menjaring
investasi berupa penanaman modal langsung (FDI).

Sayangnya, fakta yang ada Indonesia belum optimal menjaring investasi
langsung. Misalnya banyaknya perusahaan yang merelokasi pabrik dari
China. Tapi tak ada yang pindah ke Indonesia dan memilih negara-negara
tetangga. Jokowi pun dibuat kesal.

Begini cerita selengkapnya.

1. Jokowi Kesal RI Tak Dilirik
Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengungkapkan kekesalannya lantaran
investasi yang masuk ke Indonesia kalah dari negara tetangga. Banyak
perusahaan yang pindah dari China larinya bukan ke Indonesia.

“Catatan yang kemarin disampaikan Bank Dunia kepada kita, dua bulan yang
lalu, ada 33 perusahaan di Tiongkok keluar (di relokasi ke negara
lain),” kata Jokowi, Rabu (4/9/2019).

Dari 33 perusahaan itu, Jokowi menekankan bahwa 23 memilih pindah ke
Vietnam, dan 10 sisanya pindah ke beberapa negara mulai dari Malaysia
Thailand, dan Kamboja. Bahkan Jokowi sampai mengulangi data itu untuk
memberi penekanan.

“Dari 33 tadi, sekali lagi, 33 perusahaan di Tiongkok yang keluar, kita
ulang, 23 ke Vietnam, 10 ke Kamboja, Thailand, dan Malaysia, tidak ada
yang ke Indonesia,” ujar Jokowi.

Menurut Jokowi ada permasalahan yang terjadi di internal Indonesia.
Penyebabnya bukan karena faktor eksternal. Dia mencontohkan, perusahaan
yang pindah dari China hanya butuh waktu dua bulan untuk bisa pindah ke
Vietnam.

“Tolong ini digarisbawahi, hati-hati berarti kita memiliki persoalan
yang harus kita selesaikan. Dan setelah dilihat lebih detail kalau mau
pindah ke Vietnam itu hanya butuh waktu 2 bulan rampung semuanya, kita
bisa bertahun-tahun,” tambah Jokowi.

2. Apa Biang Keroknya?
Menteri Koordinator Perekonomian Darmin Nasution membeberkan penyebab
perusahaan yang pindah dari China tak satu pun ke Indonesia.

“Masalah utamanya begini, belakangan ini, katakanlah setahun terakhir,
cukup banyak relokasi industri dari China. Itu sedikit sekali yang ke
Indonesia. Sebagian besar Vietnam, Kamboja, Thailand. Indonesia dari
China jarang sekali,” kata Darmin di Kantor Presiden, Jakarta Pusat,
Rabu (4/9/2019).
Menurut Darmin permasalahannya bukan ada di perizinan melainkan rekomendasi yang terlalu lama untuk diberikan ke investor.

“Ini menunjukkan bahwa ada yang nggak berjalan dengan baik di kita.
Bahkan beberapa hal bukan izin, kadang-kadang cuma rekomendasi teknis
apalah namanya. Nggak ada izin tapi perlu rekomendasi, nah ini perlu
lama,” jelasnya.

Dia mencontohkan, untuk mendapatkan rekomendasi saja investor harus
menunggu hingga tiga bulan. Padahal seharusnya cukup 2-3 hari saja.
Untuk itu pemerintah akan memangkas habis-habisan hal-hal yang
menghambat investasi.

“Kita kesulitan bukan karena izin, tapi karena rekomendasi 2 bulan baru
keluar. Sedangkan ikut dalam global value chain persoalan itu harus
selesai 2-3 hari. Poinnya kita memang harus review habis-habisan dan
pangkas habis-habisan,” tambahnya.

3. Jokowi Sentil Anak Buah
Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyentil menteri-menteri yang bersentuhan
dengan investasi. Jokowi menilai investasi Indonesia yang belum optimal
lantaran para investor belum dilayani dengan baik.
“Kita ini jangan kayak pejabat, minta dilayani. Kita melayani” kata Jokowi, Rabu (4/9/2019).

Jokowi memberi contoh, perusahaan petrokimia dari Taiwan yang mau
berinvestasi di Indonesia sempat terkendala masalah tanah dengan
Pertamina, padahal investasinya besar. Berikutnya Saudi Aramco yang
enggan berinvestasi di Indonesia.

Jokowi meminta para pejabat pemerintahan bisa mendampingi investor
dengan baik hingga investasi mereka benar-benar terealisasi. Pasalnya
investasi ini penting untuk mengantisipasi kondisi perekonomian global
yang mengarah ke resesi.

“Jadi tolong menteri-menteri ini memberikan pelayanan yang baik pada
investasi-investasi yang memang itu menjadi sebuah solusi, dan jalan
keluar yang tadi sudah saya sampaikan. Dampingi mereka sampai
terealisasi,” tegasnya.

Jokowi pun meminta para menteri menginventarisir perusahaan-perusahaan
yang sudah buka pintu ke Indonesia tapi belum merealisasikan
investasinya. Dia meminta dalam seminggu ini didata, termasuk
permasalahan yang mengganjalnya.[dtk]

Komentar