oleh

Pria Ini Ciptakan Gong Raksasa

-Berita-245 Dilihat
Poniman
BANYUWANGI-JATIM, SriwijayaAktual.comKrearif dan pintar memanfaatkan peluang, itu yang
tergambar dari Poniman, warga Kecamatan Rogojampi. Memanfaatkan drum
bekas, pria ini mampu mengubahnya menjadi gong yang bernilai tinggi.
Bahkan gong yang dibuatnya tak hanya berukuran kecil, tapi sampai
berdiameter satu meter.

“Awalnya hanya membuat gamelan, kenong
atau bonang. Tapi lama kelamaan ada yang minta buat gong,” jelas
Poniman, Minggu (18/9/2016).

Poniman mengaku, keahlian itu
didapatkannya dari orangtuanya yang juga memproduksi alat-alat musik.
Bahkan seiring banyaknya jumlah orderan, kini ia bekerja dengan adiknya.

“Biasanya
bapak yang bertugas memadukan suara kalau pas membuat gamelan. Tapi
sekarang bapak sudah nggak kerja karena udah tua dan sakit,” ungkapnya.

Poniman
mengaku, Biasnya menggunakan drum bekas oli atau minyak, yang didapat
dari pelanggannya. Awal mula, drum itu dibelah dan dibentuk melingkar
sesuai ukuran. Gabungan dari potongan drum itu selanjutnya dirangkai
hingga membentuk layaknya gong. Lama untuk pengerjaannya itu biasanya
membutuhkan waktu maksimal 2 hari untuk gong ukuran paling besar.

“Tidak
sulit, tapi harus teliti karena tidak mau pelanggan pada kecewa.
Sekarang beda dengan dulu, karena banyak pesanan yang hanya dibuat
hiasan bukan pertunjukkan,” katanya.

Khusus untuk gong ukuran
besar memang sengaja dibuat untuk memenuhi pesanan saja. Peruntukannya
biasanya tidak digunakan untuk pertunjukan musik, tapi sebagai hiasan.

“Kalau gong ukuran satu meter ini biasanya untuk hiasan hotel-hotel atau villa di Bali,” ujarnya

Harga
gong buatan Poniman ini cukup terjangkau antara Rp 300.000-Rp 700.000
sesuai dengan ukuran yang dipesan. Dalam sebulan, ia mampu mengerjakan
15 gong.

“Ada juga yang diameternya 80 sentimeter atau lebih
kecil lagi Ada juga yang pesan satu set dengan alat tabuh lainnya. Tapi
rata-rata untuk hiasan,” tuturnya.

Dia menjelaskan, banyak
menerima pesanan karena harganya lebih murah dibandingkan daerah lain
dengan kualitas yang lebih baik. Uniknya, metode pemasarannya hanya
dilakukan dari mulut ke mulut.

“Kalau pesan di Bali harganya bisa
mencapai Rp 5 juta. Padahal barangnya dari sini juga. Kalau pembeli
bilang katanya lebih baik dibanding di daerah lain yang garapannya
kasar,” ungkapnya.

Namun sayangnya, kreativitasnya itu kini
terkendala dengan biaya modal. Sehingga tak mampu memenuhi semua pesanan
yang dibebankan kepadanya. [*].

Sumber, Berita Jatim 

Komentar