oleh

PSK Dilarang Jatuh Cinta, ‘Kisah Pilu dari Ujung Barat Jawa’

-Berita-1121 Dilihat
Ilustrasi/PSK

SERANG-BANTEN, SriwijayaAktual.com – Jadi pelacur tidak boleh jatuh hati kepada pelanggan. Itulah
prinsip yang diterapkan IS yang memilih jalan hidup sebagai wanita
penghibur.
Dua ibu jari IS tampak sibuk menekan tuts di
layar kaca ponselnya. Beberapa pelanggan sudah menghubunginya. Ada yang
sekadar iseng melontar rayuan gombal, ada juga yang serius mengajak
kencan. 
Rata-rata pelanggan IS warga negara asing (WNA) yang bekerja di Kota Baja, Cilegon, Banten. IS mengaku punya 11 pelanggan WNA.
“Saya
jarang dapat tamu orang Indonesia. Kalau WNA bayarannya gede. Mereka
biasanya ambil paket LT [long time]. Bisa tiga juta sampai lima juta
untuk satu hari semalam kencan,” kata IS kepada BantenNews—jaringan Suara.com, jaringan Harianjogja.com, beberapa pekan lalu di Kota Serang.
Malam itu, ia mengaku akan menemui Mr K, di salah satu hotel di Kota Cilegon. IS mengaku senang setiap kali disewa pria asing.
“Dia tampan dan royal, satu lagi, masih muda,” tutur IS sambil menunjukkan foto pria yang dimaksud.
Dari
11 pelanggan, IS mengaku terhubung melalui aplikasi komunikasi media
sosial. Para calon pelanggan akan menemukannya melalui aplikasi itu.
Foto profile yang aduhai akan mengantar calon pelanggan untuk
menghubunginya.
Memang ada juga beberapa pelanggan pegawai bank
dan manajer pemasaran yang menjadi pelanggan IS. Paling malas ia
meladeni pegawai pemerintah. Selain ribet juga terkenal pelit urusan
duit.
“Kalau orang asing senang lihat wajah kayak saya. Tak mancung dan kulit agak coklat,” seloroh IS sambil melepas tawa.
Salah
satu pelanggan IS bahkan pernah menikahinya. Usia IS dan mantan
suaminya memang terpaut jauh sekali. IS berusia 25, sedangkan suaminya
saat pernikahan mereka sudah menginjak 63. Pernikahan itu, menurut IS
bukan karena semata ia jatuh cinta. Kebaikan membuat ia luluh juga.
“Dia baik orangnya. Mau ikut agama saya. Sayang sama saya dan anak saya. Kebutuhan hidup kami semuanya terpenuhi,” kenang IS.
Namun
sayang, usia pernikahan IS hanya bertahan tiga tahun. Suaminya harus
kembali ke Negeri Ginseng untuk kembali ke perusahaan pusat tempatnya
bekerja.
“Sebelum pulang, dia kasih uang ke saya untuk membangun rumah kontrakan dan ruko,” kata IS.
Mati karena HIV
Setelah ditinggal suami, IS
kembali pada dunianya yang lama. Menjadi wanita penghibur. Dunia malam
bukan dunia yang asing bagi IS. Ia mengaku pernah menjadi penghuni
lantai tiga Hotel A, Jakarta.
“Saya setahun di sana sebagai penari striptis,” kenang IS.
Penghasilan
IS saat di Hotel A bisa mencapai Rp4 juta per malam. Namun, sistem
keamanan dan pengunjung yang rata-rata WNA di dalam hotel membuatnya tak
betah. Terlebih setelah kejadian yang memilukan di depan matanya.
“Terlalu
ketat. Kita tak boleh cerita apa yang ada di dalam. Dua teman saya
meninggal karena HIV karena melayani dua sampai tiga pria sekaligus tiap
malam. Kulit mereka mengelupas seperti ular sebelum meninggal.
Sementara saya hamil dan tak tau dengan pria yang mana,” kata IS pilu.
Di
tengah percakapan, datang seorang pria menanyakan IS. Kepada lelaki
itu, IS langsung menjawab bahwa dirinya adalah orang yang dimaksud.
Lelaki itu langsung terlihat canggung ketika IS menanyakan maksud
kedatangannya.
“Maaf ya pak, bapak belum buat janji dengan saya.
Tamu-tamu saya biasanya janjian dulu. Kalau begini [belum ada janji]
saya tidak bisa pak,” kata IS kepada pria itu.
IS mengaku hanya
melayani pria yang sudah membuat janji melalui aplikasi media sosial. Ia
mengaku khawatir dengan orang baru. “Takutnya petugas. Saya tak layani
yang datang langsung tanpa membuat janji dulu,” jelas IS. [*]

Komentar