Pasang Iklan Murah disini
Berita  

“Putra Mahkota di Senjakala Orba”

SriwijayaAktual.com – Setidaknya ada dua foto berukuran
besar yang tergantung menghiasi salah satu dinding ruang kerja di lantai
24 Gedung BPPT (Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi). Salah satu
foto memperlihatkan Presiden Soeharto, dengan mengenakan helm, tengah
mengendarai motor besar. Motor itu dilengkapi sidecar (kereta samping)
yang ditempati Prof BJ Habibie, kala itu masih menjabat Menteri Riset
dan Teknologi (Menristek). Foto lainnya menampilkan adegan berbeda,
Habibie yang memboncengkan Soeharto.

Sejumlah wartawan yang baru saja mengikuti jumpa pers terkait pemogokan
karyawan IPTN (Industri Pesawat Terbang Nusantara), pertengahan Oktober
1997, mendapat perlakuan istimewa dari Habibie. Mereka diajak
melihat-lihat ruang kerjanya yang luas dan super sejuk.

“Memang sudah cocok jadi wapres,” celetuk beberapa wartawan mengomentari
kedua foto tersebut. “Ah, kalian ada-ada saja,” sergah Habibie tertawa.
Kala itu, isu Habibie sebagai calon wapres, memang mulai santer.
Menristek BJ Habibie memboncengkan Presiden Soeharto (Foto: Saidi / Dok. Setpres)

Habibie dikenal punya kedekatan khusus dengan Soeharto. Keduanya bertemu
pertama kali pada awal 1950 di Makassar. Kala itu Soeharto menjabat
Komandan Brigade Garuda Mataram, dan tengah melakukan operasi penumpasan
pemberontakan Kapten Andi Azis. Kediaman orangtua Habibie kebetulan
berhadapan dengan markas Brigade Garuda. Ibunda Habibie, R.A. Tuti
Marini Puspowardojo, yang berasal dari Yogyakarta, membuat anggota
Brigade yang berasal dari Jawa Tengah dikenal baik hati dan kerap
memberikan bantuan logistik kepada anak buah Soeharto.

Ketika menjadi presiden di awal orde baru, Soeharto kembali bertemu
dengan Habibie yang tengah sekolah di Jerman Barat pada akhir 1960-an.
Namun, baru pada 1974, Soeharto memintanya kembali ke Indonesia. Pada
Senin malam, 28 Januari 1974, Habibie menemui Soeharto di Jalan Cendana.

“Saudara Habibie dapat berbuat apa saja dan Insya Allah dalam batas
kemampuan saya, akan saya selalu berusaha mengamankan kebijakan Saudara.
Namun, tidak boleh terjadi suatu revolusi lagi di bumi Indonesia karena
rakyat tidak dapat mengatasinya,” kata Soeharto seperti ditulis Habibie
dalam otobiografinya, “Detik-Detik yang Menentukan”.

Dalam perjalannya kemudian, Soeharto memang memberikan banyak
keistimewaan kepada Habibie. Selain Menristek, ada banyak lembaga dan
perusahaan strategis yang dipercayakan kepada Habibie untuk
mengawasinya. Setiap kali menerima Habibie di Bina Graha, Soeharto biasa
meluangkan waktunya hingga beberapa jam. Itulah yang kemudian muncul
anggapan bahwa Habibie adalah Putra Mahkota yang dipersiapkan Soeharto
untuk mempin Indonesia di kemudian hari.

Lima bulan setelah perbincangan dengan para wartawan di lantai 24 Gedung
BPPT, lelaki kelahiran Parepare, 25 Juni 1936 itu benar-benar terpilih
menjadi wakil presiden.Kepastian Habibie menjadi calon wapres 1998-2003,
muncul setelah Panglima ABRI Jenderal Feisal Tanjung secara resmi
mengajukan namanya. Sebelumnya, PPP, Golkar, PDI, Birokrasi (melalui
Fraksi Utusan Daerah), telah memutuskan hal serupa.

Feisal termasuk anggota “Tim Enam” bersama Akbar Tandjung, Harmoko,
Ginanandjar, Haryanto Dhanutirto, dan Habibie. Tim ini dibentuk untuk
mencari figur calon wapres yang dianggap tepat, dengan menyiapkan
sejumlah kriteria. Agar mengerucut ke Habibie, Feisal memasukkan
kriteria tentang “menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, serta
pengalaman internasional.”

Baca Juga: MENGENANG LAWATAN ‘Kontrak Mati’ Presiden RI Soeharto dalam Upaya Membantu Muslim Bosnia

Usulan itu disampaikan dalam forum rapat tiga jalur Golkar yang diikuti
Harmoko (Ketua Umum Golkar) dan Ary Mardjono (Sekjen Golkar), Yogie SM
(Menteri Dalam Negeri/Birokrasi), dan Sutoyo NK (Dirjen Sospol), Letjen
Yunus Yosfiah serta Mayjen Susilo Bambang Yudhoyono, sebagai Kassospol
dan Assospol Kassospol ABRI. Forum memperdebatkan dengan sengit usulan
kriteria tersebut. Maklum, Harmoko diam-diam menaruh harapan dapat
dipilih Soeharto untuk menggantikan Try Sutrisno sebagai wapres. Karena
itu bagi para penyokongnya, dukungan rakyatlah yang menjadi salah satu
kriteria kunci.

Baca Juga: Keluarga Cendana Serahkan “HARTA KARUN” Milik Presiden Soeharto & Ibu Tien ke Negara

Usai rapat, Feisal meminta kepada Yunus dan Bambang, untuk tetap
memasukkan dua kriteria usulannya tadi. “Saya yang akan
mempertanggungjawabkan masukan itu kepada Pak Harto,” kata Feisal
meyakinkan kedua stafnya tersebut seperti ditulis dalam biografi,
“Feisal Tanjung, Terbaik untuk Rakyat – Terbaik untuk ABRI” karya Usamah
Hisyam dkk.

Siasat Feisal berhasil. Ketika beberapa hari kemudian pimpinan tiga
jalur Golkar berkonsultasi dengan Soeharto mengenai kriteria calon
wapres, dua kriteria yang merupakan usulannya masuk dalam 13 kriteria
yang diumumkan Harmoko kepada pers kemudian. Meski demikian, sebagian
publik tetap menafsirkan bahwa kriteria itu tak mutlak mengarah pada BJ
Habibie.

Baca Juga: Kesaksian Presiden RI Soeharto Yang Tidak Mempan Ditembak !

Tak mau berspekulasi, di kemudian hari Feisal merasa perlu mendapatkan
konfirmasi langsung dari Soeharto tentang figur yang benar-benar
diinginkannya lewat kriteria tersebut. “Habibie,” jawab Soeharto.

Baca Juga:  Video Viral!! BJ Habibie Bilang: Indonesia Bisa Bubar Jika Presiden Salah Ambil….

Feisal pun menyampaikan sikap Presiden Soeharto itu kepada Habibie yang
telah dikenalnya saat dirinya masih Mayor. Kala itu, 1971, Feisal
menempuh pendidikan Seskoadnya tentara Jerman di Hamburg.

 Baca Juga: SubhanaAllah…Presiden RI Soeharto Hidup Lagi?’

Selain Habibie, Feisal juga menemui Harmoko yang dilihatnya berambisi
menjadi pendamping Soeharto. Dengan sangat hati-hati, dia menyampaikan
informasi bahwa yang dikehendaki Soeharto adalah Habibie. “Pak Harmoko,
saya sudah diberi tahu Pak Harto, bahwa yang akan menjadi wakil
presiden, bukan bapak,” ujarnya. “Kalau Bapak maju, saya tidak dapat
mengamankan,” tambahnya.

Baca Juga: Melawan Lupa, BJ Habibie Pulihkan Rupiah dari Rp15.000 ke Rp6.500

“Tapi kepada saya, beliau tidak bilang apa-apa,” Harmoko menukas.
“Menurut beliau, Bapak di DPR/MPR,” balas Feisal. “Kelihatannya saya
masih diberi kesempatan,” timpal Harmoko. “Kalau Bapak tidak percaya,
silahkan saja menghadap beliau,” pungkas Feisal.

Baca Juuga: Dikoreksi Mbak Tutut, Bapak “Soeharto Tidak Pernah Mengundurkan Diri”

Harmoko akhirnya tahu diri. Habibie pun dilantik sebagai wapres
mendampingi Soeharto. Kala itu kondisi ekonomi tengah dilanda krisis
global, termasuk Indonesia. Soeharto yang telah berkuasa lebih dari 30
tahun pun tak lagi digdaya.[dtk]
Spesial Untuk Mu :  Revisi UU KPK Perkuat Pencegahan & Pemberantasan Korupsi