oleh

Rektor Musni Umar: Penusuk Wiranto Bukan Anggota JAD, Tapi Orang Sakit Hati Korban Penggusuran

-Berita-18 views
loading...
Sosiolog yang juga Rektor Universitas Ibnu Chaldun Jakarta Musni Umar menyangkal kesimpulan kepolisian
Ibnu Chaldun

JAKARTA, SriwijayaAktual.com – Sosiolog yang juga Rektor Universitas
Ibnu Chaldun Jakarta Musni Umar menyangkal kesimpulan kepolisian bahwa
Syahril Alamsyah, pelaku penusukan terhadap Menko Polhukam Wiranto,
sebagai anggota Jamaah Anshorut Daulah (JAD). Menurutnya, Syahril
merupakan korban penggusuran yang merasa sakit hati dan kehidupannya
jauh dari ajaran Islam.

Hal itu disampaikan Musni Umar dalam video yang diunggah di channel
Youtubenya, Sabtu (12/10/2019), yang berjudul Penusuk Jend. Wiranto
Bukan Jamaah Ansharut Tauhid?. Musni menyoroti kesimpulan kepolisian
tersebut dengan beberapa fakta yang muncul dalam berbagai pemberitaan
tentang Syahril Alamsyah di Medan.

“Saat itu para analis intelijen dan tentu kepolisian menyatakan bahwa
itu bagian dari JAD, kaum radikal yang ingin melakukan perlawanan
terhadap negara. Tapi belakangan ini kita menyaksikan bahwa Syahril
Alamsyah yang lahir dan besar di Medan adalah korban penggusuran dan
juga pernah terlibat dalam membuka praktik judi, kemudian suka minum dan
tidak salat,” kata Musni.

Karena itu, dia menganggap kesimpulan bahwa Syahril bagian dari JAD atau
kelompok radikal telah terbantahkan. Menurutnya, ciri-ciri anggota JAD
adalah taat beragama namun merasa negara tidak adil terhadap mereka
sehingga melakukan perlawanan.

“Sementara yang kita saksikan kehidupan keseharian Syahril Alamsyah yang
menusuk Jenderal Wiranto jauh dari itu. Karena itu memang kita harus
hati-hati memberikan label kepada mereka yang taat beragama dengan
menyebut mereka kaum radikal,” ujarnya.

Dia meminta agar negara bisa menerima orang-orang yang tidak setuju
dengan pemerintah. Yang lebih penting lagi, kata Musni, jangan ada
penghakiman terhadap pihak manapun karena bertentangan dengan hukum
negara maupun agama.

“Tapi pihak pemerintah harus menyadari bahwa rakyat yang mengalami
kesulitan bisa saja melakukan apa pun yang ingin mereka lakukan untuk
menyampaikan atau melampiaskan ketidakpuasan mereka.”

Diberitakan sebelumnya oleh Solopos.com, berdasarkan keterangan salah
seorang tetangga pelaku bernama Mira, pria yang akrab disapa Alam ini
merupakan mahasiswa lulusan di salah satu universitas di Kota Medan.
“Orangnya udah baik, pintar lagi. Jago kali dia komputer-komputer itu,
jago IT,” katanya kepada Antara, Kamis (10/10/2019).

Dia menyebutkan sudah sejak lama tidak melihat Syahrial di rumahnya, Jl
Alfakah VI, Desa Tanjung Mulia Hilir, Kecamatan Medan Deli, Medan.
“Kalau dulu dia tinggal sama orang tuanya. Cuma semenjak rumahnya
digusur karena pembangunan jalan tol, enggak pernah nampak lagi,” ujar
Mira. [*]

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed