oleh

Relawan Jokowi Tutup Sayembara Buktikan Kecurangan Pemilu Berhadiah Rp100 Miliar

-Berita-180 Dilihat
Relawan Jokowi tutup sayembara kecurangan pemilu/Pilpres 2019. Photo :VIVA/Anwar Sadat

JAKARTA, SriwijayaAktual.com – Relawan pendukung calon presiden dan calon wakil presiden nomor urut 01,
Jokowi-Ma’ruf Amin menutup sayembara dengan nilai Rp100 miliar bagi
mereka yang bisa membuktikan terjadinya kecurangan pada proses Pemilu
2019.

Menurut relawan pendukung Jokowi-Ma’ruf ini, dalam sayembara ini,
tidak ada yang berhasil memberi bukti bahwa Pemilu 2019 curang.
 
“Satu
bulan yang lalu kami nyatakan, jika ada pihak 02 yang bisa buktikan
kepada kami (soal kecurangan) maka kami siapkan dana yang mewakili 17
pengusaha untuk memberikan kepada pihak yang menemukan kecurangan paling
tidak lima persen. Tapi sampai saat ini belum ada pihak yang hubungi
kami, sehingga kami melakukan closing statement,” kata relawan dari Muslim Cyber Army Jokowi-Ma’ruf, Diki Candra di Fave Hotel, Cililitan, Jakarta Timur, Jumat (17 April 2019)
Diki mengatakan, meski saat ini kumpulan relawan telah menutup
sayembara tersebut, namun pihak relawan masih menunggu sampai dengan
tanggal 21 Mei 2019. Jika memang tidak ada, maka pemenangnya adalah
rakyat yang selama ini mendukung Jokowi-Ma’ruf.
“Jika sampe
tanggal 21 Mei jam 12 siang enggak ada yang datang, maka yang menang
adalah rakyat mayoritas yang pilih Jokowi, pemenangnya adalah rakyat,”
ujarnya
Jika sampai waktu yang telah ditentukan tidak ada yang memberikan
bukti kecurangan Pemilu 2019 secara terstruktur sistematis dan massif,
maka dipastikan kecurangan hanyalah fitnah semata.
“Artinya selama
ini bisa kami nyatakan propaganda bahwa ada kecurangan yang bersifat
TSM, itu adalah bohong fitnah, karena faktanya ketika kita minta data
mereka tak bisa tunjukkan,” ujarnya

Berita Terkait; Ikutilah! Sayembara Hadiah Cash Rp100 Miliar Bisa Buktikan Kecurangan Pilpres 2019

Terkait adanya pemaparan
dugaan kecurangan yang dilakukan BPN Prabowo-Sandi di Hotel Sahid
beberapa waktu lalu, Diki mengatakan itu belum dapat membuktikan
kecurangan minimal lima persen. Itu hanyalah paparan IT yang belum dapat
dibuktikan secara pasti.
“Itu baru kasus bukan angka kecurangan, itu lebih banyak kepada sistem entry data
komputer yang belum tentu mempengaruhi angka keseluruhan, itu baru
kasus bukan sampai kepada kesimpulan Pak Jokowi memperoleh angka sekian
persen karena ada kecurangan sekian persen,” ujarnya. (mus/viva)

Komentar

Banyak Berita Terhangat Lainya