oleh

Republik Cina di Kalbar, Kisah ‘NEGARA DALAM NEGARA’

-Berita-460 Dilihat

SriwijayaAktual.com – Tak banyak orang tahu, pulau Kalimantan ternyata pernah berdiri Republik
Cina yang diberi nama Republik Langfang. Dalam catatan sejarahnya,
Republik Langfang merupakan sebuah perkumpulan kongsi Hakka China di
Kalimantan Barat.
Tahun 1777, seorang pendatang dari Cina Daratan (Hakka) bernama Lo
Fang Pak mendirikan sebuah negara republik pertama bernama Lan Fang di
Kalbar. Ini menyusul tahun 1764 terjadi gelombang besar-besaran imigran
dari Cina Daratan  untuk menambang emas dan mencari kehidupan di sana.
Para pekerja tambang emas ini memiliki banyak perhimpunan.
Perhimpunan inilah kemudian berkembang menjadi sebuah ikatan besar yang
disebut Kong-Si. Dan membentuk negara dalam negara di dalam kekuasaan
Kasultanan Sambas dan Mempawah.
Karena jumlah populasi mereka terus mengalami peningkatan tajam dan
ikatan Kong-Si satu sama lain semakin menguat, maka Republik Langfang
tak mampu dibendung oleh para penguasa pribumi kala itu.
Para sejarawan menyebut bahwa terbentuknya Republik Cina di Kalbar tak
lain adalah usaha untuk mengorganisir para imigran tambang yang
jumlahnya kala itu telah mencapai ratusan ribu jiwa lebih. Karenanya,
demi mengorganisir  para Cina Daratan inilah, mereka sepakat membentuk
negara Lan Fang.
Kao Chung Xi dalam bukunya tentang orang Hakka, berjudul Jews of the Orient menjelaskan
bahwa Lan Fang yang berawal dari sebuah kongsi tambang orang Tionghoa
dari etnis Hakka tumbuh menjadi semacam negara di dalam negara.
Untuk menghindari konfrontasi dengan penguasa setempat, Republik Lan
Fang yang berdiri tahun 1777 itu tetap membayar upeti sebagai simbol
‘tunduk’ kepada Kesultanan Sambas dan Mempawah. Sekalipun demikian,
Republik Lanfang tetap memiliki sistem pemerintahan sendiri. Mulai dari
undang-undang, sistem perekonomian, pendidikan dan perdagangan.
Dalam menjalankan pemerintahannya, Republik Lanfang menganut sistem
demokrasi. Sementara kawasan Sintang kala dijadikan sebagai pusat
administrasi atau ‘ibukota’ negara republik Langfang. Namun, setelah
berjalan hingga beberapa generasi, Republik Lanfang akhirnya berhasil
dibubarkan Belanda tahun 1884. Saat itulah, sebagian keturunan Hakka
China yang pernah tinggal dan menjadi warga negara Republik Langfang
banyak yang hijrah ke Singapura.
Termasuk leluhur dari mantan Perdana Menteri Singapura Lee Kuan Yew
yang berasal dari Republik Langfang.  Dalam memoarnya, Lee Kuan Yew
mengaku jika dirinya merupakan keturunan dari seorang Hakka Pontianak.
“Chua Kim Teng (kakek Lee Kuan Yew) lahir di Singapura pada tahun 1865.
Setelah istri pertama dan kedua meninggal, dia menikah dengan Neo Ah
Soon. Nenek saya, seorang Hakka dari Pontianak yang saat itu dikuasai
Belanda. Dia berbicara dengan dialek Hakka dan bahasa Indonesia melayu,”
ujar Bapak Pembangunan Singapura itu dalam bukunya berjudul From Lee Kuan Yew, The Singapore Story: Memoirs of Lee Kuan Yew. [nn ]

Komentar