oleh

‘Seberapa Sulit Ajak Masyarakat Tidak Buang Sampah ke Sungai’

Sampah yang menumpuk pasca banjir di Sungai Cikapundung Kolot, Cijagra, Kabupaten Bandung beberapa waktu lalu. [net]

SriwijayaAktual.com – Kemasan plastik bekas pakai tampak menumpuk di salah satu sudut
Poliklinik Kesehatan Desa Buntalan, Klaten Tengah, Klaten, Jawa Tengah.
Sampah tersebut didatangkan oleh warga yang ingin berobat.
Ya,
poliklinik ini memang unik karena layanan untuk para pasien bisa
digratiskan asal mereka membawa sampah sebagai ganti ongkos berobat.
Pelayanan kesehatan berbayar sampah tersebut dinamakan Program Sampah
Barokah—yang merupakan bagian dari Sekolah Sungai di Klaten.
“Bank Sampah ini sebagai upaya pelayanan kesehatan gratis berbayar
sampah. Kegiatan ini sebagai usaha agar warga tidak membuang sampah di
sungai,” ujar Tina Farida Mustofa yang akrab disapa Bidan Tina,
pengelola poliklinik ini.
Bantaran Kali Ujung di Klaten, Jawa Tengah, dijadikan taman warga. [dok; sekolah sungai]
Sekolah sungai muncul pertama kali di
Klaten pada April 2016. Lantaran gerakan ini terlihat menuai hasil,
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menjadikan sekolah sungai
Klaten sebagai acuan untuk melakukan gerakan bersih sungai.
Divisi
Humas dan Informasi Sekolah Sungai Klaten, Arif Fuad menjelaskan basis
gerakan sekolah sungai ini muncul dari komunitas relawan bencana.
“Relawan
dan komunitas tanggap bencana sudah terbentuk. Mereka ini menggerakkan
warga untuk peduli sungai. Lantas para relawan dan komunitas ini
mengajak warga menyusur dan membersihkan sungai, tetapi masih secara
sporadis. Awal tahun 2016 itu ada apel akbar diikuti ribuan warga untuk
bersih sungai,” papar Arif kepada wartawan di Klaten, Fajar Sodiq.
Di
sekolah sungai, tidak ada bangunan seperti sekolah formal. Dinamakan
sekolah karena ada beragam penyuluhan kepada masyarakat yang diberikan
dengan memadukan elemen akademisi, pemerintah, dan komunitas. Dari
beragam edukasi, salah satunya bagaimana mengelola sungai agar bisa
memiliki nilai ekonomis.
Warga memanfaatkan taman di bantaran Kali Ujung, Klaten, Jawa Tengah, sebagai tempat berkumpul.
Dalam jangka dua tahun ini, sekolah
sungai sudah `menyulap` beberapa sungai penuh sampah menjadi area yang
memiliki nilai ekonomis. Arif Fuad menyontohkan Kali Lunyu di tengah
kota Klaten pada musim puasa tahun kemarin menjadi Pasar Ramadan.
“Ada
juga komunitas ibu-ibu Mama Cantik Arisan Pinggir Kali (Macan Arli) di
daerah Karangnongko, Klaten. Arisan ini setiap seminggu sekali digelar
di pinggir sungai, ” kata dia.
Sekolah sungai di Klaten sengaja
menjadikan kelompok perempuan dan ibu rumah tangga sebagai garda
terdepan dalam mengelola sampah rumah tangga mengingat penghasil sampah
terbesar di Klaten adalah sampah rumah tangga.
“Sampah di sungai
itu kebanyakan sampah rumah tangga. Ada pampers, kantong plastik,
kertas, pokoknya sampah rumah tangga. Artinya para perempuan ini
memegang peran penting agar tidak menjadikan sungai sebagai tempat
sampah terpanjang, ” ujar Arif.
Gerakan Sekolah Sungai mengajak masyarakat untuk aktif membersihkan sungai.
Kesadaran Masih Rendah
Akan tetapi, bukan
berarti program Sekolah Sungai langsung berhasil. Nanang Jatmiko,
fasilitator Sekolah Sungai Klaten, mengaku masih banyak masyarakat yang
membuang sampah ke sungai.
“Kesadaran warga untuk tidak menjadikan
sungai sebagai tempat pembuangan sampah terpanjang masih rendah. Nanti
repotnya pas musim banjir. Karena sampah menumpuk di bawah jembatan dan
sungai. Ini membuat aliran air saat hujan terganggu. Dampaknya adalah
tanggul jebol dan membuat lahan pertanian rusak. Akhirnya yang terjadi
gagal panen, ” jelas Nanang.
Untuk mengajak masyarakat tidak lagi membuang sampah ke sungai juga bukan persoalan mudah.
“Cara
mengubah mindset itu berbeda-beda. Kami cari akal, dengan mengajak
relawan bukan warga setempat untuk susur sungai. Dari situ muncul warga
setempat yang merasa tidak enak hati. Mereka mungkin berpikir, `warga
lain saja mau membersihkan kok aku malah tidak mau membersihkan`,” tutur
Nanang.
Warga lansia menyerahkan sampah anorganik kepada bank sampah untuk dikelola bersama.
Contoh lain bahwa tidak mudah meyakinkan dan mengajak
warga menjaga agar sungai bersih dari sampah dapat dilihat dari program
Poliklinik Kesehatan Desa Buntalan, yang pasiennya cukup membayar dengan
sampah.
Dua tahun berjalan program ini berjalan kurang efisien.
Tidak semua pasien menggunakan sampah untuk biaya berobat. Bahkan tidak
setiap hari ada warga yang menggunakan sampah untuk biaya berobat.
“Kesadaran warga untuk mengelola sampah masih kurang, ” ujar Tina.
Kampanye
bersih sungai yang pernah digerakkannya tahun 2016 lalu belum menuai
hasil sempurna. Bahkan sungai di dekat tempat tinggalnya kembali menjadi
tempat warga untuk membuang sampah.
“Jadi tahun 2016 itu sungai
di dekat rumah itu bersih. Tapi kemudian ada satu orang yang membuang
sampah di sungai. Nah itu ternyata menular ke orang lain. Jadinya
sekarang sungai itu kotor lagi. Papan larangan membuang sampah di sungai
juga nggak ada, ” jelas Tina.
Sekumpulan warga di tepi Sungai
Citarum, Jawa Barat, pada akhir April lalu. Kesadaran warga untuk tidak
membuang sampah di sungai masih rendah, kata pegiat lingkungan.[net]
Perlu Keberlanjutan
Kendati belum berjalan
mulus, Sekolah Sungai di Klaten dinilai berada di jalur benar dalam
membangkitkan kepedulian warga akan masalah sampah.
Tantangan Sekolah Sungai Klaten adalah bagaimana mempertahankan keberlanjutan.

yang paling rawan. Kenapa sangat rawan? Karena ini berkaitan dengan
keistiqomahan untuk menjaga agar tetap dalam relnya. Perlu komunikasi
yang sesuai dengan kondisi warga. Jadi bukan sekadar omongan atau wacana
saja,” jelas pengamat lingkungan dari Universitas Sebelas Maret (UNS)
Surakarta, Prabang Setyono.
Menurutnya, topik keberlanjutan bukan
hanya masalah khusus di sekolah sungai Klaten, tapi juga sekolah sungai
di daerah lain. Bahkan masing-masing kementerian memiliki inisiatif
sendiri yang terkait dengan sekolah sungai. Ia menilai jika kinerja
seperti itu rentan tumpah tindih dan rawan tak berlanjut.
“Semuanya
memang butuh aktor penggeraknya untuk triggernya. Tetapi jika dibiarkan
seperti ini terus kan malah seperti hukum alam. Nanti orang yang
bergerak itu-itu saja. Jangan sampai gerakan ini hanya milik pegiat
lingkungan dan pemerintah, tapi juga milik masyarakat,” paparnya. (*)

Komentar

Banyak Berita Terhangat Lainya