oleh

SEJARAH HITAM

Aidit/Istimewa/Net

KOLOM PEMBACA, SriwijayaAktual.com – HARI ini (30 September/G30S-PKI)mengingatkan 54 tahun yang lalu saat terjadi percobaan kudeta
Partai Komunis Indonesia (PKI) atas pemerintahan yang sah Soekarno. PKI
mencoba untuk kesekian kalinya mengganti ideologi negara. Dengan
dukungan perwira dari berbagai angkatan penggulingan diupayakan serapi
mungkin.
Misteri keterlibatan Soekarno belum terjawab. Korban TNI dan rakyat
berjatuhan. Komunis memang radikal dan brutal. Lubang buaya menjadi
saksi sejarah hitam sebagai monumen untuk setiap generasi.

loading...

Ada tokoh yang “mempersetankan” sejarah seolah bosan dari tahun ke tahun
PKI lagi PKI lagi padahal PKI sudah terkubur sejarah. Yang bersangkutan
“dijewer” dengan diingatkan bahwa di Jerman juga setiap tahun
diperingati peristiwa kekejaman Nazi sebagai pelajaran agar tak terulang
lagi peristiwa buruk tersebut. Sebagai upaya pula untuk menjadikan
bangsa selalu menggoreskan sejarah emas yang akan dikenang oleh generasi
mendatang. Bukan sejarah hitam.

Al Quran di samping menampilkan peristiwa masa lalu dan menuangkan
berulang-ulang, juga mengingatkan akan fungsi sejarah yaitu penguat
keyakinan (nutsabitu bihi fuadaka), memahami kebenaran (wa jaa aka fii
hadzihi al haq), pelajaran (mauidhoh) dan peringatan (dzikro), QS Huud
120.
Jadi sejarah itu tentu  sangat berguna. Bukan untuk “dipersetankan”
sebagaima ungkapan orang jahil. Orang bijak dan pintar akan selalu
banyak belajar dari sejarah.

PKI yang bersendi pada ajaran komunisme marxisme/leninisme adalah
terlarang. Menyebarkan ajaran komunisme, marxisme dan leninisme juga
terlarang.

Ketetapan MPRS XXV/1966 mengatur tegas larangan tersebut. Komunisme
adalah paham yang tidak bisa ditoleransi karena berbahaya bagi keutuhan
negeri. Kerjasama dengan Partai Komunis negara manapun akan membuka
peluang tumbuh kembali PKI dan berkembang ajaran komunisme, marxisme dan
leninisme. Siapapun yang membuka peluang maka ia adalah pengkhiat
bangsa dan negara. PKI dan komunisme tidak mati atau terkubur.
Sudisman anggota Polit Biro PKI pimpinan DN Aidit membacakan pledoi di
Sidang Mahmilub sewaktu dituntut hukuman mati tahun 1967 menyampaikan
kalimat yang menjadi “warning” bagi kita semua yang berada di zaman
kini:
“Jika saya mati sudah tentu bukannya PKI ikut mati bersama kematian saya. Tidak, sama sekali tidak.
Walaupun PKI sekarang sedang rusak berkeping-keping, saya tetap yakin
bahwa ini bersifat sementara. Dan dalam proses sejarah nantinya PKI akan
tumbuh kembali, sebab PKI adalah anak zaman yang dilahirkan oleh
zaman”.
Yang dirasakan rakyat kini memang PKI itu ada dan menyusup. Jika ada
pejabat atau siapapun yang “ngotot” menyatakan bahwa PKI itu sudah tidak
ada di Indonesia, perlulah diwaspadai jangan-jangan ia adalah bagian
dari kader atau agen jaringan PKI. Sudisman telah memberi sinyal.
Artinya kita harus tetap waspada.
Oleh M. Rizal Fadillah
Penulis adalah pemerhati politik.(*) 
loading...

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed