Pasang Iklan Murah disini
Berita  

Serbuk Rahasia Penguat++ Lelaki, Mau?…ini

Gambar: Sajian minuman jamu di Warung Jamu Suwe Ora Jamu, Komunitas Salihara, Jakarta Selatan, pada pertengahan Januari lalu. | © Wisnu Agung Prasetyo /Beritagar.id
JAKARTA, SriwijayaAktual.com – Konsep warung jamu ini sebenarnya mirip bar. Meja panjang berbentuk
huruf U beserta kursinya mengelilingi tempat pramusaji meracik minuman.
“Keluhannya
apa?” begitu bunyi kalimat pembuka yang lazim disampaikan kepada para
tamu. Setelah berdiskusi sedikit, pramusaji akan memberikan selembar
menu panjang.
Isi kertas terbagi empat itu daftar 69 racikan jamu
dan khasiatnya. Kalau bingung harus memilih yang mana, tamu bisa
langsung bertanya dan minta saran kepada pramusaji.
Pembeli yang
sudah sreg dengan pilihannya kelak menyaksikan gerak rutin di balik
meja. Pramusaji mengambil gelas kaca, berjalan ke arah stoples yang
sudah dinomori, membuka tutupnya, mengambil bubuk jamu, lalu menyeduh
dengan air panas.
Segelas jamu kemudian tersaji bersama air jahe panas sebagai penawar rasa pahit.
Pemilik
warung jamu yang kita bicarakan adalah Romuli. Dia orang yang paling
dinanti para tamu. Tak setiap hari dia muncul di sana. Pada Selasa
(23/01/2018), pria itu hadir menemui tamu-tamunya, pun meladeni sesi
wawancara dengan kami pada pukul setengah tujuh malam.
Sikapnya
ramah dan terbuka menerima siapa saja. Itu magnet di meja bar Bukti
Mentjos, Jalan Salemba Tengah Nomor 54, Paseban, Senen, Jakarta Pusat.
Dia melemparkan tanya yang serupa kata-kata pramusajinya: “Keluhannya
apa?”
Jawaban terlontar dari kursi pelanggan rupa-rupa. Sakit
gigi, pusing kepala, batuk baru beberapa di antaranya. “Sejak kapan
sakitnya, Pak?” begitu pertanyaan lanjutan Romuli. Kemarin, jawab
tamunya.
Romuli langsung menunjuk nomor 29, jamu Sekalor (Tujuh
Keliling), dan nomor 25, Jamu Sariawan Mulut. “Bagus untuk mengobati
sakit kepala dan gigi,” katanya.
Dengan cekatan tangan kanannya
yang sedari awal memegang spatula berkepala ganda dari baja nirkarat
mengambil bubuk jamu dari stoples-stoples bernomor. Tangan kirinya
memegang gelas kaca.
“Mau campuran manis atau pahit?” tanya
Romuli. Manis, jawab bapak yang duduk di hadapannya. Romuli lalu
menambahkan dua kali bubuk jamu dari stoples yang sama.
Ia serahkan gelas itu ke pramusaji di dekatnya untuk diseduh. Siklus lantas berulang: jamu terhidang beriring wedang jahe.
Sebagai
pelengkap, hadir sepiring potongan kencur berukuran sekuku. “Kalau
kencur dikunyah halus bercampur dengan ludah, ia bisa menjadi antibiotik
alami untuk tenggorokan. Batuk, sakit tenggorokan, amandel, dan gusi
bengkak obatnya kencur,” kata Romuli.
Sejurus kemudian, di atas
kursi beroda, Romuli bergerak lagi ke “pasien” lain di sebelah kirinya.
“Keluhannya apa, Pak?” tanyanya. Tamu itu mengatakan, pusing dan
meriang.
Tangan Romuli langsung bergerak meracik jamu yang
terseduh pahit itu. “Nanti malam coba tidur sejam lebih awal. Ada
bedanya atau enggak?” katanya.
Ia juga menganjurkan tamunya itu
mengurangi nasi, gula, tepung, dan garam. “Kita kontrol di empat hal ini
saja,” ujar Romuli. “Jangan lupa yang wanita harus minum dua liter air
putih setiap hari dan yang pria 2,5 liter air putih setiap hari.”
Semua
tamu mengangguk-angguk mendengar petuah Romuli. Senyum selalu
mengembang di muka Romuli saat melayani pelanggan, seolah tak ada jarak
di antara mereka.
Suasana di warung jamu Bukti Mentjos, Jalan Salemba Tengah Nomor 54, Paseban, Senen, Jakarta Pusat, pada Selasa (23/01/2018).
Demikian suasana kedai yang sudah berdiri sejak 1950-an tersebut.
Kian malam, suasana kian ramai. Nur, 68 tahun, datang ke kedai itu untuk
mengobati asam uratnya. “Saya sudah bertahun-tahun langganan di sini,”
katanya.
Di saat Romuli sedang asyik meracik jamu, kami tanyakan
apakah ada ramuan untuk vitalitas pria. “Ada. Nomor 15, Satria Ginseng,”
ujar Romuli.
Si nomor 15 mengandung berbagai rempah, telur, madu,
dan ginseng. Yang utama, ia mengatakan, adalah ramuan jamunya. Telor,
madu, dan ginseng hanya pelengkap. “Tanpa pelengkapnya pun sudah
berkhasiat,” katanya.
Romuli sebelumnya sempat memakai arak
sebagai pengganti ginseng. Tapi, karena banyak larangan minuman
beralkohol, ia menggantinya dengan tumbuhan akar-akaran.
Namun,
ia tak mau menyebut bahan-bahan pada ramuan itu secara terperinci. Ia
cuma sempat menyinggung pasak bumi sebagai satu campurannya. “Itu
rahasia dapur. Semua saya racik sendiri,” ujar Romuli sambil tertawa.
Kami pun ikut tertawa.
Di bagian atas warung itu terpampang 16
jenis rempah-rempah yang dipergunakan di Bukti Mentjos. Bolehlah di sini
disebut sebagian: kayu manis, jahe, temu lawak, jintan hitam, adas,
kunyit putih, cengkeh, kumis kucing, kencur.
Romuli mengaku kerap
memakai rempah-rempah tersebut dalam meracik jamu. Semua ia olah menjadi
bubuk halus. “Tidak boleh sehalus bedak atau sekasar tepung. Harus
seperti ini supaya khasiatnya tetap ada dan ampasnya tidak mengganggu
tenggorokan,” katanya sambil menyerahkan sesendok kecil bubuk jamu ke
tangan saya.
Aroma khas jamu memang langsung meruap dari bubuk
itu. Wangi rempah-rempah. Saat menggosok-gosokkan bubuk jamu itu di
kedua tangan, teksturnya halus sekali. Tidak lengket. Warna kuningnya
menempel di telapak tangan.
Ia tak bisa memastikan seberapa
efektif jamunya ini dapat membuat vitalitas laki-laki meningkat. Menurut
Romuli, jamu bersifat personal. Reaksinya berbeda untuk setiap orang.
Keampuhannya tidak terikat pada hitungan menit, tapi hari per hari.
“Ada
tamu yang mengatakan ke saya setelah minum ini secara rutin akhirnya
punya anak,” katanya. “Tapi saya tidak bisa memastikan. Jamu sifatnya
alami, tidak memaksa.”
Jamu dan minuman yang tersedia di Suwe Ora Jamu, Komplek Komunitas
Salihara, Pasar Minggu, Jakarta Selatan (kiri dan kanan atas).
Pemilik Suwe Ora Jamu, Nova Dewi, berpose untuk Beritagar.id pada
pertengahan Januari lalu (kanan bawah).
Suasana lain diberikan Suwe Ora Jamu ketika kami mengunjungi salah
satu cabangnya di kompleks Komunitas Salihara, Pasar Minggu, Jakarta
Selatan. Kedai ini lebih mirip restoran dengan kelompok kursi dan meja
yang tertata apik.
Pengunjung yang datang kebanyakan berusia 20 tahunan. “Kami memang membawa jamu ke arah lifestyle (gaya hidup) untuk produk yang siap minum,” kata pemilik kedai itu, Nova Dewi.
Pilihan
jamu di menunya pun cenderung menjawab keluhan kesehatan umum seperti
batuk, pegal linu, sakit perut, dan masuk angin. Tapi, Nova tak menutup
keinginan pelanggan yang mau merasakan racikan jamu penambah vitalitas.
“Biasanya tak langsung memesan. Ngobrol dulu sama saya di pojok atau via telepon,” katanya.
Nova
tak sembarangan memberikan jamu dimaksud. Ia harus tahu dulu gaya hidup
calon ‘pasien’ termasuk golongan darah, tekanan darah, kadar gula, dan
riwayat kesehatannya.
Tak jarang Nova meminta pelanggannya untuk
cek kesehatan ke dokter terlebih dulu sebelum meminum jamunya. “Jamu
harus didukung dengan data medis yang akurat,” katanya.
Kalau
semua kondisi medisnya mendukung, Nova baru memberikan paket ramuan
vitalitas. Ia mengaku ada rempah-rempah khusus untuk membuat jamu
tersebut. Sama seperti Romuli, ramuan ini pun rahasia. Memang, setiap
peracik jamu, baik perorangan maupun perusahaan, tak pernah mau membuka
rahasia dapur.
Saat kami tanya beberapa bahan penambah vitalitas,
seperti purwaceng, pasak bumi, sanrego, dan akway, Nova mengatakan ada
jamu yang memakai bahan-bahan tersebut. Tapi ia tak mencampur semua
menjadi satu racikan.
Biasanya Nova mulai dari akar-akaran,
seperti purwaceng atau pasak bumi. Kalau dalam seminggu pasien merasa
cocok, maka Nova mengganti bahan pendamping dengan sanrego atau akway.
Tanaman tersebut ada yang dibeli dari Pasar Mayestik, Jakarta Selatan.
Tapi, ada juga yang didapatkan dari seorang pemasok di Tangerang.
Ia
sempat menunjukkan purwaceng yang telah dicuci bersih dan dikeringkan
kepada kami dalam sebuah mangkuk. Warnanya kehitaman. Selain itu ada
pula pasak bumi dan sanrego yang juga telah dipotong kecil-kecil. “Dua
bahan ini harus disikat satu per satu supaya bersih dan bebas lumut,”
katanya.
Tapi aturan pemakaian tanaman itu pun tak baku. Kadang ia tak memakai campuran bahan-bahan itu. Cukup dengan rempah-rempah saja.
Nah,
minum jamu tanpa perubahan gaya hidup, menurutnya, akan percuma. “Kalau
mau sehat saja tidak bisa dari satu elemen, harus keseluruhan,”
katanya.
Fungsi jamu sebenarnya membantu organ-organ tubuh agar
bekerja dengan baik. Tapi, semuanya hanya bisa ditunjang dengan pola
makan yang baik, tidur teratur, dan berolahraga rutin.

Baca Juga: Sempat Heboh Video Panas++nya, Terkuak! Ternyata Begini Perasaan Sebenarnya Luna Maya pada Ariel, Video Ini Ungkap Semuanya

Pelanggan
yang memesan jamu vitalitas, kata Nova, bukan dari Jakarta saja. Dari
luar kota bahkan mancanegara, seperti Malaysia, pun memesan dari Suwe
Ora Jamu. Paket-paket yang Nova berikan bukan semata untuk suami dan
istrinya, tapi juga pasangan yang mau menikah.
“Kalau untuk perempuan biasa minum jamu untuk menguatkan otot (vagina),” katanya.
Soal
keampuhan jamu vitalitas buatannya, Nova pun tak bisa memastikan. Semua
memakan waktu paling tidak sebulan. “Minum jamu itu proses. Hal ini
berbeda dengan pil atau obat kuat yang efeknya langsung,” ujar Nova. [beritagar]
Spesial Untuk Mu :  Ditanya soal Aksi Guru Honorer se-Indonesia di Depan Istana "Nginep Tidur Ditrotoal", Ini Respons Sikap Jokowi....