oleh

Taj Mahal, Agra, dan Upaya India Menghapus Sejarah Islam

loading...
Benteng Merah di Agra
Oleh: Teguh Setiawan, Wartawan Senior

SriwijayaAktual.com – India sedang berusaha ‘menulis ulang’ sejarah Islam, dengan mengganti
nama Agra — ibu kota Dinasti Mughal — dengan nama yang berbau Hindu.

Arabnews melaporkan pihak berwenang negara bagian Uttar Pradesh di utara
India telah membentuk sebuah komite pada 18 November 2019, yang
menugaskan Universitas Ambedkar mencari nama yang cocok sebagai
pengganti nama Agra.

“Kami tela menerima surat dari pemerintah negara bagian, untuk mencari
tahu apakah Agra pernah dikenal dengan nama lain,” kata Prof Sugam
Anand, kepala departemen sejarah Universitas Ambedkar.

Agra adalah rumah bagi Taj Mahal yang terkenal. Setiap taun Agra
dikujungi jutaan wisatawan, yang ingin menyaksikan keindahan Agra.

Kota ini mulai dikenal dunia ketika Silander Lodi, penguasa Muslim
memindahkan ibu kota dari Delhi ke tempat ini tahun 1504. Lokasi Agra
saat itu sangat strategis.

Babar, penguasa Mughal pertama, mempertahankan Agra sebagai ibu kota dan
meletakan dasar bagi pembangunan Benteng Agra — pusat kekuatan Mughal.

Akhir abad ke-16, Raja Akbar mencoba membangun ibu kota baru di Fateh
pur Sikri — tidak jauh dari Agra. Rencana itu dibatalkan karena
ketidak-tersediaan air yang cukup untuk menghidupi kota.
Awal abd ke-17, Shah Jahan — penguasa Mughal berikut — membangun Taj
Mahal, sebuah monumen putin untuk mengenang Mumtaz Mahal, di tepi Sungai
Yamuna di Agra.

Pada 1648, Shah Jahan memindahkan ibu kota ke Delhi, tapi Agra tak
kehilangan daya tarik. Bahkan Agra menjadi sedemikian menarik berkat Taj
Mahal, simbol cinta suami kepada istri.

Setiap tahun 1,6 juta wisatawan mengunjungi Agra, dan menghasilkan pendapatan lima juga dolar AS.

Dua tahun lalu, sebagai upaya mengubur situs-situs peninggalan Islam,
pemerintah negara bagian Uttar Pradesh — yang dikuasai Paratai Bharatia
Janata (BJP) — memindahkan Taj Mahal dari direktori pariwisata.

Muncul banyak kritik. Sejarawan melihat penghapusan itu sebagai upaya
penghapusan situs Islam dan sejarah negara oleh pemerintah sayap kanan
Hindu pimpinan Yogi Adityanath.

Jagan Prasad Garg, legislator BJP di Agra, mengatakan kata Agra tidak
punya arti. Sekitar lima ribu tahun lalu, tempat itu bernama Agarvan.
“Jadi, nama tempat ini harus kembali ke aslinya,” kata Prasad Garg.

Rajiv Saxena, dari kantor Dinas Pariwisata Agra, mengatakan mengubah
nama tempat bersejarah adalah tindakan represif. “Mengubah nama tempat
bersejarah akan mengurangi nilai pasar,” katanya.

Agra, kata Saxena, adalah nama yang telah berusia 500 tahun. Menurutnya,
alih-alih menghabiskan uang untuk mengganti nama, pemerintah seharusnya
serius memperbaiki citra dan menggandakan peluang bisnis pariwisata.

“Agra adalah warisan India. Jika pemerintah membatalkan warisan sejarah,
akan tercipta ruang bagi unsur reaksioner dan sektarian di tengah
masyarakat,” kata Saxena kepada Arabnews.

Aarti Kumari, seorang profesional bisnis yang berbasis di Agra,
mengatakan pemerintah sedang membuang-buang waktu untuk masalah tidak
perlu. “Kami bangga pada Agra, dan harus seperti itu,” ujarnya.
Bukan kali pertama India mengubah nama kota warisan Islam. Oktober 2018,
Allahabad — yang berarti kota Allah — diubah menjadi Prayagraj, nama
abad ke-16 kota itu.

Allahabad didirikan Raja Akbar, dan terletak di pertemuan Sungai Gagga
dan Sungai Yamuna — tujuan populer bagi umat Hindu. Allahabad memainkan
peran penting dalam perjuangan kemerdekaan India, tapi rejim hindu garis
keras BJP membantah peran sejarah itu.

BJP juga mengubah distrik Faizabad menjadi Ayodhya. Sebeumnya, Ayodhya
hanya kota kecil di distrik Faizabad. BJP tidak ingin kota suci Hindu
dikaitkan dengan Islam.

Pada 2017 pemerintah Uttar Pradesh juga mengganti nama stasiun kereta
api Mughalsarai menjadi Pandit Deen Dayal Upadhyaya, seorang pemimpin
sayap kanan Hindu.

Prof Aditya Mukherjee, sejarawan terkemuka Universitas Jawaharlal Nehru,
mengatakan; “Pengubahan nama nama itu menghancurkan gagasan India.”
Menurutnya, ada ratusan tempat dengan nama Islam. Mengganti nama-nama
itu adalah mengesampingkan sejarah Muslim, menjelekan, dan memiliakan
zaman kuno yang tidak ada hubungan dengan sejarah.[khazanah.republika.co.id]

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed