oleh

Tidak Jadi Presiden, Prabowo Tetap King Maker Handal

-Berita-232 Dilihat

Oleh Tony Rosyid
KOLOM PEMBACA-OPINI, SriwijayaAktual.com – Pilpres 2019 sudah berlalu. Semua rakyat tahu hasilnya. Meski
kontroversial, tetap saja harus berpedoman pada konstitusi. Soal Prabowo
ucapin selamat atau tidak, itu bukan hal yang fundamental. Megawati
juga dua periode kalah, tak mengucapkan selamat kepada SBY. Bertemu saja
tidak. Ini hanya masalah situasi saja. Untuk menjaga psikologi para
pendukung. Prabowonya sendiri tak ada masalah.
Ucapan selamat tak perlu diributkan. Negara gak cacat tanpa ucapan
selamat. Keputusan MK dan ketetapan KPU juga gak batal karena tak ada
ucapan selamat. Toh mantan danjen kopassus ini sudah secara intens
menjalin komunikasi dengan sejumlah elit istana. Kabarnya sudah
berulangkali melakukan pertemuan. Sudah ketemu? Kapan? Sama LBP? Sama
BG? Ah, kepo lu!

Tidakkah ini bagian dari i”tikad untuk rekonsiliasi? Rekonsiliasi dalam
pengertian memulihkan hubungan agar normal kembali setelah agak tegang
selama pilpres berlangsung. Rekonsiliasi dalam pengertian bagi-bagi
kursi? Itu kan belum ada keputusan. Ente aja suka manas-manasin. Emang
kalau gabung, ente juga mau minta jatah kursi? Hehe… Bercanda.

Soal kenapa rakyat, khususnya para pendukung Prabowo belum bisa terima
hasil pilpres, ini menjadi PR bagi pemerintahan Jokowi-Ma”ruf. Mesti ada
upaya untuk melakukan: Pertama, pemerintah perlu bersikap dan
berkomunikasi lebih persuasif. Merangkul bukan memukul. Jangan biarkan
orang-orang yang sedang cari muka untuk bertindak seolah-olah membela
dan melindungi Jokowi dengan gaya komunikasi yang keras dan kasar.
Tindakan represi hanya akan menidurkan kemarahan rakyat untuk sementara
waktu. Dalam jangka panjang kemarahan yang tertekan itu akan bangun dan
meledak. Ini hanya soal momentum saja.

Kedua, tunjukkan kemampuan pemerintah menyelesaikan problem negara.
Kalau negara aman-aman saja; ekonomi stabil, harga stabil, rakyat gak
kelaparan, lapangan pekerjaan tersedia, listrik, tol dan TDL gak naik,
maka ini bisa jadi obat yang menyembuhkan luka akibat Pilpres. 

Ketiga, sikap adil. Sebagaimana Jokowi dalam sambutan kemenangannya
mengungkapkan; ia adalah presiden seluruh rakyat Indonesia. Saatnya
membuktikan, bahwa ia bisa bersikap dan berprilaku adil terhadap semua
rakyatnya. Terutama adil di aspek hukum. Tak lagi ada dikotomi antara
pendukung dan non pendukung. Semua dilayani dan diperlakukan sama di
depan hukum.

Jika tiga poin ini mampu direalisasikan Jokowi-Ma”ruf, dengan sendirinya
rasa simpati dan respek rakyat akan tumbuh. Gak perlu ngajari rakyat
bagaimana cara mengapresiasi. Gak perlu juga ada ancaman-ancaman. Cukup
lakukan komunikasi yang baik, bersikap adil, dan tunjukkan prestasi
dalam mengurus negara ini, rakyat dengan sendirinya akan mengapresiasi.
Simpel!

Di sisi lain, bagimana dengan nasib Prabowo? Tetap sebagai ketua partai
besar. Yaitu Gerindra. Meski belum bernasib baik untuk menang dalam
pilpres, jasa Prabowo harus diakui cukup besar untuk negeri ini.
Terutama keberhasilannya melahirkan tokoh-tokoh potensial untuk menjadi
pemimpin di negeri ini. Ridwan Kamil adalah salah satu hasil tangan
dingin Prabowo. Setelah Gerindra kasih tiket, Ridwan Kamil jadi walikota
Bandung. Dan sekarang jadi gubernur Jawa Barat.

Jokowi, juga hasil dari jerih payah Prabowo membawanya ke Jakarta. Plus
tiket partai dan biaya nyagub. Meski akhirnya dua kali mengalahkan
Prabowo di pilpres 2014 dan 2019. Seorang mentor mesti bangga jika anak
asuhnya bisa melampaui prestasi dan karir dirinya. Curang kok bangga? Di
Mahkamah Konstitusi gak ada kecurangan. Setidaknya, itu secara
konstitusional. Secara moral? Silahkan berdebat!

Anies Baswedan, tokoh yang pernah berseberangan politik di pilpres 2014
ini akhirnya dimentori oleh Prabowo untuk maju di Pilgub DKI. Dan Anies
berhasil mengalahkan anak asuh Prabowo yang dianggap mbalelo, yaitu
Ahok. Anies sadar itu. Karenanya, Anies jaga loyalitas dan tak akan
pernah mau menghianati Prabowo. “Cukup orang lain saja yang berkhianat,
tapi bukan saya,” kata Anies. Makanya, ketika Anies dirayu dan dibujuk
oleh sejumlah partai, bahkan juga oleh ormas terbesar di Indonesia untuk
maju di pilpres 2019, dengan tegas Anies menolak. Kenapa nolak Nis?
“Saya tak ingin menghianati Pak Prabowo”, jawabnya tegas.

Sebagai King Maker, peran dan kelihaian Prabowo tak diragukan. Dia punya
partai dan tak segan rogoh kocek pribadi untuk biayai anak asuhnya
nyalon jadi kepala daerah. Tidak hanya anak asuh di partainya, tapi juga
kader-kader bangsa terbaik di luar Gerindra. Dan semua itu dilakukan
tanpa pamrih, dan tak ada “undertable transaction”. Ini yang juga diakui
oleh Ahok dan Ridwan Kamil. Juga oleh Anies Baswedan. Hanya Jokowi yang
masih ditunggu kerendahan hatinya untuk mengakui itu. Sampai disini,
ungkapan Gus Dur bahwa Prabowo adalah salah satu tokoh yang paling
ikhlas, telah mendapatkan buktinya.

Setelah pilpres, Prabowo dihadapkan dua pilihan. Oposisi, atau gabung ke
Jokowi-Ma”ruf. Kalau Prabowo gabung, para pendukung kecewa dan akan
balik kanan. Lalu mengucapkan “goodbye Jenderal”.

Para pendukung umumnya, atau malah semuanya, menginginkan Prabowo
oposisi. Sembari sebagai oposisi, Prabowo kembali jadi King Maker.
Menyiapkan kader untuk menjadi kepala-kepala daerah. 2020 besok ada 60
pilkada. Juga untuk menjadi pemimpin nasional lima tahun kedepan.
Prabowo mesti mulai mengidentifikasi siapa kader-kader potensial yang
tidak hanya punya integritas, kapasitas dan loyalitas, tapi juga punya
peluang untuk menang. Butuh kerja yang terencana.

Untuk di tingkat nasional, Prabowo punya Anies Baswedan, gubernur DKI
yang lagi naik daun. Rakyat bilang Anies adalah rising star. Tokoh yang
jadi harapan masa depan rakyat. Saat ini, rakyat menjuluki Anies sebagai
“Gubernur Indonesia”.  Integritas, kapasitas dan loyalitas tak
diragukan. Potensi kemenangannya juga besar. Ini fakta di sejumlah hasil
survei.

Apakah Prabowo akan benar-benar menyiapkan Anies Baswedan untuk
menyembuhkan luka kekalahannya dua kali dari Jokowi? Kita tunggu. Sebab,
pilihan ini nampaknya kedepan paling rasional buat Prabowo dan
Gerindra. 

Di bawah asuhan Prabowo sebagai mentor dan king maker, Anies sangat
berpeluang menjadi calon terkuat di pilpres 2024 nanti. Apalagi jika PKS
tetap berada dalam persekutuannya dengan Gerindra. Maka, soliditas para
pendukung Prabowo akan semakin kuat dan efektif sebagai mesin
kemenangan.

Jika Anies terpilih jadi presiden 2024 dari Gerindra, maka akan
meneguhkan kembali prestasi Prabowo sebagai “King Maker” handal.
Jakarta, 11/7/2019 (*)

Komentar

Banyak Berita Terhangat Lainya