oleh

Tokoh Papua: Jokowi Tak Usah Cari Utang’an, Istana di Papua Sudah Jadi

-Berita-249 Dilihat

PAPUA, SriwijayaAktual.com – Tokoh masyarakat Papua, Christ Wamea,
menyebut Presiden Joko Widodo alias Jokowi tak perlu susah payah
mengeluarkan dana, apalagi tambah utang untuk membangun Istana
kepresidenan di Papua. Ini karena Gubernur Papua, Lukas Enembe, sudah
membuat bangunan megah tersebut.

“Gedung negara sudah dibangun oleh Gubernur Papua, Lukas Enembe, yang
gagah sekali. Tinggal bapak presiden datang berkantor saja di Papua,”
kata dia melalui akun twitter resminya disertai gambar yang dimaksud, Kamis
(12/9/2019).
Christ mengatakan, Jokowi tak perlu lagi sibuk membangun Istana, yang
pasti membutuhkan dana cukup besar. Dia juga khawatir pendanaanya akan
berasal dari utang.

“Biar kosentrasi urus ekonomi di Papua saja, karena Papua itu provinsi termiskin di Indonesia,” ujarnya.

Wacana Jokowi membangun Istana di Papua ini mencuat saat ia menemui
tokoh Papua di Istana Negara, Selasa (10/9/2019). Dia mengatakan pembangunan
Istana Kepresidenan di Papua terbilang tidak mudah.


Selain anggaran, pembangunannya juga terkendala soal lahan. Kendati
demikian, Jokowi menargetkan tahun 2020 pembangun itu akan dimulai.
Namun, Christ membeberkan bahwa sebenarnya Gubernur Lukas Enembe mengaku
tidak tahu-menahu tentang pertemuan tersebut. “Saya tidak tahu dengan
pertemuan itu, dalam kapasitas meraka datang bertemu juga saya tidak
tahu” kata Lukas Enembe.

Bahkan, Kepala Suku Besar Arfak yang juga Gubernur Papua Barat,
Dominggus Mandacan, menegaskan bahwa pihaknya tidak pernah
merekomendasikan siapapun untuk mengikuti pertemuan bersama Presiden
Jokowi. Apalagi membicarakan tentang persoalan kerusuhan di tanah Papua.

“Kalau Gubernur Papua dan Papua Barat saja tidak tahu dan tidak
merekomendasikan 61 org papua yang mengatasnakan tokoh pmPapua untuk
bertemu dgdengan presiden, bagaimana kita mau mengakui pertemuan itu
mewakili aspirasi OAP (orang asli Papua). Jangan adu domba kami, yang
kami inginkan adalah kedamaian yang abadi di Tanah Papua,” kata dia.

Dia mengatakan, ribuan orang asli Papua turun ke jalan beberapa waktu
lalu karena ada penghinaan terhadap harga diri dan identitas OAP, bukan
mau minta pemekaran. Apalagi membangun palapa ring maupun bangun istana.

“Katanya sudah 12 kali datang ke Papua masa masih belum paham juga
tentang Papua. Jadi pemimpin itu harus peka,” katanya menegaskan. [ns]

Komentar