Pasang Iklan Murah disini
Berita  

Video Dalam Pidato terkait Ormas Islam ‘Provokatif’! MUI Desak Kapolri Jendral Pol Tito Karnavian Minta Maaf!!, ini Surat Terbuka Lengkapnya…

Kepala Kepolisian RI Jenderal Tito Karnavian usai menghadiri Rapat
Pimpinan Polri 2018 di Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian, Melawai,
Jakarta Selatan, 24 Januari 2018. Tempo/Zaraamelia
SriwijayaAktual.com – Wakil Sekjen Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Tengku Zulkarnain
menuntut Kapolri Jendral Tito Karnavian meninta maaf kepada umat Islam.
Hal itu berkaitan dengan pidato Tito yang disebutnya rawan memicu konflik.
Sebagai bentuk protesnya, Zulkarnain menuliskan surat terbuka melalui akun facebook-nya.
Dikonfirmasi, Tengku Zulkarnain membenarkan bahwa tulisan itu benar
dibuatnya setelah sebelumnya menuliskannya dengan tulisan tangan.
Zulkarnain juga mengaku sangat kecewa dan keberatan dengan pidato Tito tersebut.
Ia menilai, pidato Kapolri itu cukup provokatif, tidak mendidik, buta sejarah, tidak berkeadilan, dan rawan memicu konflik.
Protes dan tuntutan Tengku Zulkarnain itu sendiri dtuangkannya dalam
akun facebook miliknya, kemarin, Senin (29/1/2018) pukul 16.54 WIB.
Dalam unggahan tersebut, ia menyertakan rekaman video saat Kapolri sedang menyampaikan pidato dimaksud.
Berikut surat terbuka lengkap Tengku Zulkarnain yang diunggah melalui akun facebook-nya:
SURAT TERBUKA BUAT KAPOLRI
(Apakah Pidato Ini Bukan RASIS…?)
Jika Petinggi Negara NKRI, sekelas Kepala Kepolisian Republik
Indonesia masih bersikap seperti ini, kasihan Ibu Pertiwi dan akan
menangis lah Para Pejuang Pendiri Negara Kesatuan Republik Indonesia,
ujungnya dapat mengancam Kesatuan dan Persatuan di NKRI
Mereka yang berada di luar Ormasy Islam saja, dan tidak memeluk
Agama Islam, walau tidak lebih dari 10% populasi WAJIB dihormati jasa
jasanya dalam perjuangan kemerdekaan, apalagi umat Islam yang hampir
9O%. Bukankah ada ungkapan yang sangat terkenal:”Bangsa yang Besar
adalah Bangsa yang Dapat Menghargai Jasa Pahlawannya?
Nampaknya, Bapak Kapolri sangat perlu belajar lagi tentang
sejarah Pergerakan dan Perjuangan Indonesia. Sikap dan pengetahuan anda
tentang hal Ini sangat mengecewakan.
Ada banyak Ormasy Islam di luar NU dan Muhammadiyah yang ikut
berjuang mati matian melawan Penjajah di seluruh wilayah Indonesia dari
Aceh sampai Halmahera.
Di Jawa saja sebelum Muhammadiyah dan NU lahir Ada Syarikat
Islam, kemudian menjadi Syarikat Dagang Islam, dengan Tokoh pendiri HOS
Cokroaminoto, guru besar bagi Bung Karno dan banyak tokoh pejuang
lainnya.
Di Jakarta tahun 1901 berdiri Jami’atul Khairat, didirikan oleh para ulama dan masyarakat keturunan Nasionalis Arab.
Di Banten ada Mathla’ul Anwar berdiri tahun 1916 di Menes, bahkan
10 tahun sebelum NU berdiri, dan hanya 4 tahun setelah Muhammadiyah,
yang berdiri di Yogjakarta pada tahun 1912. Dan anda perlu tahu saat itu
TIDAK ADA satupun anggota Muhammadiyah, apalagi anggota NU yang
berjuang demi Rakyat Indonesia dan Kemerdekaan Indonesia di wilayah
Banten. Bukankah NU belum lahir ke dunia saat Umat Islam Mathla’ul Anwar
di Banten sudah berjuang melawan penjajah dan membuat usaha agar
Republik Indonesia bisa berdiri MERDEKA?

Perlu juga Bapak ketahui bahwa salah satu anak didik Mathla’ul Anwar
adalah Almarhum Bapak Haji Alamsyah Ratu Prawira Negara, Jendral
pejuang asal Lampung, yang pernah jadi Menteri Sekretaris Negara dan
Menteri Agama RI.
Di Medan, berdiri Ormasy Islam Al Washliyah pada tahun 1926.
Membuat banyak sekolah, bahkan para Ulama nya berjuang angkat senjata
melawan penjajah Belanda. Sebut Almarhum Riva’i Abdul Manaf(pengarang
lagu “Panggilan Jihad”, yang fenomenal itu), Almarhum Bahrum Jamil,
Almarhum Bahrum Sholih dll., Ulama pejuang dari Al Washliyah. Perlu Pak
Kapolri Catat BESAR BESAR bahwa pada saat itu dapat dipastikan belum ada
satu orang pun anggota NU di Sumatera Utara, khususnya Medan yang
berjuang di sana.
 
Pada tahun 1936 berdiri pula Ormasy Islam Al Ittihadiyah, oleh Syekh
Muhammad Dahlan, Syekh Zainal Arifin Abbas, (penulis Besar asal Medan,
yang juga Ulama Pejuang yang angkat senjata melawan penjajah), dan Syekh
Sayuti Nur(guru saya), Ulama Pejuang di Medan.
Di Aceh berdiri Persatuan Ulama Aceh yang menuliskan fatwa Jihad
melawan Penjajah Kafir Belanda dan menuliskan “Hikayat Perang Sabil”
yang terkenal itu.
Di Sumatera Barat berdiri Persatuan Tarbiyah Islamiyah(PERTI)
yang dipelopori oleh Almarhum Syekh Sulaiman Arrasuli, Syekh Abbas
Padang Lawas, Syekh Jamil Jaho, Syekh Sa’ad Mungka, Syekh Abdul Wahid,
Padang Jopang, Suliki, Payakumbuh(kakek guru saya). Sudah dapat
dipastikan saat itu belum ada anggota NU yang berjuang di sana.
Di Jawa Barat ada Persis, didirikan oleh Syekh A. Hassan Bandung,
yang banyak membantu Bung Karno dan menginpirasi pemikiran beliau. Ada
juga PUI(Persatuan Umat Islam).
Di Lombok ada Nahdhatul Wathon, yang didirikan oleh Tuan Guru Zainudddin, kakek dari Tuan Guru Bajang, Gubernur NTB saat ini.
Di Sulawesi ada Al Khairat, dan lain lain.

Apa pak Kapolri pikir jika saat itu hanya NU di Jawa Timur, dan
Muhammadiyah di Yogjakarta dan sekitarnya yang berjuang memerdekakan
NKRI, sementara wilayah Aceh sampai Maluku Ulama dan Umat Islam
berpangku tangan tidak ikut berjuang, KEMERDEKAAN INDONESIA dapat
tercapai?
Tegas kami katakan bahwa di NKRI ini semua Ormasy yang ada di
NKRI mempunyai HAK dan KEWAJIBAN yang sama. Mendoktrin dan menebarkan
Policy “BELAH Bambu” sangat tidak manusiawi.
Dapatkah Bapak Kapolri menyebutkan Ormasy Islam di luar NU dan
Muhammadiyah di Indonesia yang anda katakan mau “merontokkan negara”?
Perlu kejelasan untuk mencegah timbul saling curiga antar Ormasy dan
Umat Islam Indonesia, akibat ucapan anda itu.
Akhirnya, melalui Surat Terbuka ini saya, Tengku Zulkarnain
PROTES KERAS atas pernyataan Bapak Kapolri dan meminta anda meminta maaf
serta menarik isi pidato anda yang saya nilai tidak ETIS, merendahkan
jasa Para Ulama dan Pejuang Islam di luar Muhammadiyah dan NU.
Mencederai rasa Kebangsaan, serta berpotensi memecah belah Persatuan dan
Kesatuan Bangsa dan negara Indonesia.
Tanjung Pinang, 29 Januari, 2018,
Tengku Zulkarnain
Warga Negara Indonesia

Baca Juga: Persis: Kapolri Tugasnya Mengayomi, Melindungi dan Bukan Pengadu Domba

[pojoksatu]




Spesial Untuk Mu :  Peristiwa 3 November: Kelahiran Sultan Turki dan Wafatnya Hamengkubuwono III