oleh

Warga ini Jalani Ritual ‘TAPA PENDHEM’ Selama 5 Hari 5 Malam

-Berita-373 Dilihat
Lokasi Mbah Pani ‘tapa pendhem’ selama 5 hari 5 malam. Foto: Istimewa

Warga di Pati
Jalani Ritual ‘Tapa Pendhem’ Selama 5 Hari 5 Malam

PATI-JATENG, SriwijayaAktual.com –  Seorang warga Kabupaten Pati menjadi viral di media sosial karena menjalani ritual tapa pendhem atau bertapa dalam kondisi dikubur hidup-hidup. Dia adalah Supani, warga RT 3 RW 1 Desa Bendar, Kecamatan Juwana.

Mbah
Pani, sapaan akrabnya, dikabarkan telah melaksanakan ritualnya pada
Senin (16/9/2019) malam. Prosesi ritual pun disaksikan banyak pihak, mulai
dari warga setempat, pemerintah desa, bahkan jajaran polsek dan koramil
setempat.

Kepala Desa Bendar, Sutopo, membenarkan ada salah satu
warganya yang telah melangsungkan ritual tersebut. Ia pun mengaku
mendapatkan laporan secara langsung dari Mbah Pani sebelum melaksanakan tapa pendhem.

“Ya memang semalam ramai di sini, orang-orang lihat Mbah Pani ini menjalankan tapa pendhem.
Kami yang dapat laporan langsung dari yang bersangkutan kemudian juga
meneruskan kepada pihak polsek dan koramil, bagaimanapun juga itu adalah
warga kami dan tanggung jawab kami,” kata Sutopo, saat ditemui di Balai
Desa Bendar, Selasa (17/9/2019).
Ia menyebut, Mbah Pani melaksanakan ritual semacam itu sudah 9 kali.
Yang saat ini, adalah ritual ke-10 dan disebut sebagai ritual penutup.
Setelah itu, berdasarkan pengakuan Mbah Pani, tidak akan menjalani tapa pendhem lagi.

“Katanya
ini yang terakhir, ritual penutup begitu. Memang biasanya hanya 3 hari 3
malam, ini nanti yang terakhir rencananya sampai 5 hari 5 malam,”
terangnya.

Sutopo bercerita, ia bersama perangkat dan warga lainnya menyaksikan sendiri prosesi dikuburnya Mbah Pani dalam menjalankan tapa pendhem. Diceritakannya, segala prosesinya sama persis dengan prosesi pemakaman orang yang meninggal dunia.

Mulai
dari memakai kain kafan, bahkan sampai bentuk liang lahatnya pun sama
dengan orang yang meninggal. Lengkap dengan batu nisan di atasnya. Hanya
saja tidak tertulis nama, melainkan dibungkus dengan kain kafan.

“Ya
dikafani, dipocongin begitu. Bahkan sebelum ke liang kuburnya itu,
beliau nyalami satu-satu orang yang hadir sambil lompat-lompat karena
sudah dalam terbungkus kafan itu. Kemudian masuk ke kuburannya, juga
sudah sama dengan prosesi pemakaman. Hanya saja tidak diazani,”
imbuhnya.

Liang lokasi Mbah Pani tapa pendhem. Foto: Istimewa
Pusara tempat Mbah Pani tapa pendhem berada di ruang dapur rumahnya. Saat detikcom
bermaksud berkunjung ke rumahnya, pihak keluarga masih menutupi kondisi
pusara dan tidak memperkenankan untuk diambil gambarnya.

Topo pendhem seperti ini sudah dilakukan beliau sebanyak 9 kali. Dan hari ini adalah yang ke-10,” kata Suyono, anak angkat Mbah Pani. [skm/detik]

Komentar