oleh

WISATA KULONPROGO, Kerajinan Sabut Kelapa Klegen Dikembangkan Sejak Zaman Penjajahan Belanda

Ket/Foto; Sabut kelapa dijemur di bawah sinar matahari. (Rima Sekarani I.N./JIBI/Harian Jogja)

Wisata Kulonprogo mengenai sentra kerajinan sabut kelapa.

KULONPROGO-Jogjakarta, SriwijayaAktual.com — Hampir tidak ada
bagian pohon kelapa yang tidak dapat dimanfaatkan manusia, termasuk
sabut. Bukan hanya untuk membantu pembakaran di kompor tungku, sabut
kelapa tetapi aneka kerajinan seperti sapu dan keset.

Hal itu dipahami benar oleh warga Dusun Klegen, Desa Sendangsari,
Kecamatan Pengasih, Kulonprogo. Wilayah itu dikenal sebagai sentra
kerajinan sabut kelapa. Saat berkunjung ke sana, jangan heran jika
banyak sabut berbentuk menyerupai rambut palsu yang dijemur di hampir
semua pekarangan rumah. Beberapa orang juga akan terlihat lalu-lalang di
jalan dusun sambil membawa sapu atau keset yang siap jual.

Ratusan warga Klegen masih bertahan sebagai pengrajin sabut. Ada yang
sekadar menyediakan bahan sabut siap pakai, tali sabut, hingga membuat
sapu dan keset. Semua itu dikerjakan di rumah masing-masing. Sebagian
memang menjadikan sabut sebagai sumber mata pencaharian, tapi banyak
juga yang hanya mencari penghasilan tambahan.

Konon, pemanfaatan sabut kelapa oleh warga Klegen sudah dilakukan sejak zaman penjajahan Belanda.
“Saya sendiri sudah sekitar 20 tahun merendam sabut. Lumayan karena
tidak repot dan bisa dikerjakan sesempatnya saya,” kata seorang warga
setempat, Suparti, dilansir Harianjogja.com Kamis (12/5/2016) lalu.

Sabut siap pakai dibuat Suparti dalam beberapa bulan. Sabut kelapa
awalnya dipukul-pukul agar lebih pipih, direndam dalam air selama dua
atau tiga bulan, dipukul-pukul lagi agar seratnya terpisah, lalu dijemur
hingga kering di bawah terik matahari. Sabut kering lalu dijual ke
pengepul terdekat seharga Rp9.000 hingga Rp12.000 per kilogram.

Salah satu pengepul sabut di Klegen adalah Iriani. Selain
mengumpulkan sabut dari warga sekitar dan menjualnya ke wilayah Jogja,
Klaten, dan Muntilan, Iriani juga mengolahnya menjadi kerajinan sapu dan
keset. Pemasarannya sudah sampai Jawa Barat, Jawa Timur, dan Sumatera.

Menurut Iriani, warga Klegen akrab dengan pengolahan sabut karena
dulu banyak yang bekerja untuk sebuah pabrik cepol di Pengasih. Saat
pabrik itu guling tikar pada sekitar tahun 1960, sebagian pekerja lalu
mengolah sabut di rumah masing-masing, termasuk orang tua Iriani.
Pembuatan sapu dan keset pun sudah mulai dilakukan meski jumlahnya tidak
banyak.

Iriani sendiri melanjutkan usaha orang tuanya sejak 1995. Warga
lainnya pun perlahan menyadari potensi nilai ekonomi sabut sehingga
jumlah perajin terus bertambah. Klegen lalu menjadi sentra kerajinan
sabut kelapa dan sering mendapatkan kunjungan dari berbagai daerah dan
bahkan luar negeri, seperti Amerika dan Jepang.
“Tahun 1997 sampai 2000 itu bermunculan perajin baru. Memang sayang kalau tidak diolah karena bahannya ada terus,” ujar Iriani. (*)

Komentar

Banyak Berita Terhangat Lainya