oleh

Ya Ampun PakDe, Industri Manufaktur Kok Makin Kacau?

-Berita-446 Dilihat
Foto/dok: Pemaparan PLN didepan Presiden Joko Widodo Mengenai Mati Lampus Serentak, Senin (5/8/2019). (detikcom/Rengga Sancaya)

Ya Ampun Pak
Jokowi, Industri Manufaktur Kok Makin Kacau?

JAKARTA, SriwijayaAktual.com – Perekonomian Indonesia semakin jauh meninggalkan sektor industri pengolahan (manufaktur).
Pasalnya,
pertumbuhan ekonomi di sektor manufaktur pada kuartal II-2019 hanya
sebesar 3,54% secara tahunan (year-on-year/YoY), berdasarkan data Badan
Pusat Statistik (BPS).

Angka pertumbuhan tersebut melambat dari
tahun sebelumnya (kuartal II-2018) yang sebesar 3,88%. Bahkan kali ini
laju pertumbuhan ekonomi sektor manufaktur merupakan yang paling kecil
sejak kuartal II-2017 atau dua tahun lalu.

Sumber: Badan Pusat Statistik
Dari total tujuh kelompok industri manufaktur yang dicatat oleh BPS,
empat diantaranya mengalami perlambatan pertumbuhan ekonomi. Sementara
hanya tiga yang berhasil membukukan percepatan.

Pun, dua industri
yang membukukan percepatan adalah industri tekstil dan pakaian jadi,
serta Kertas dan Barang dari Kertas (termasuk percetakan).

Pertumbuhan
industri tekstil dan pakaian jadi naik dari 6,48% YoY di kuartal
II-2018 menjadi 20,71% YoY di kuartal II-2019. Sementara pertumbuhan
industri kertas dan pakaian jadi membaik dari kontraksi 3,03%YoY pada
kuartal II-2019 menjadi positif 12,49% YoY di kuartal II-2019.

Diketahui
bahwa dua industri tersebut sangat terbantu dengan adanya pesta
demokrasi terbesar Indonesia, yaitu Pemilihan Umum (pemilu) Presiden dan
Wakil Presiden serta calon anggota legislatif yang jatuh pada bulan
April 2019 (masuk kuartal II-2019).

Menjelang pemilu tersebut, produksi kaos partai serta percetakan brosur
dan spanduk biasanya dilakukan dengan sangat masif. Artinya besar
kemungkinan bahwa percepatan ekonomi di dua industri tersebut hanya
berlangsung secara musiman.

Sementara itu, berbagai industri manufaktur lainnya mengalami perlambatan, bahkan sebagian berbalik arah terkontraksi.

Salah
satu yang paling mencolok adalah industri Karet, Barang dari Karet, dan
Plastik. Industri ini mengalami kontraksi sebesar -7,22% YoY di kuartal
II-2019. Padahal tahun sebelumnya bisa tumbuh sebesar 11,85%.

Suhariyanto mengatakan bahwa hal tersebut terjadi karena adanya penurunan permintaan baik dari dalam maupun domestik.

Adapun
industri Batubara dan Pengilangan Migas juga terkontraksi sebesar 0,25%
YoY pada kuartal II-2019 akibat penurunan produksi Bahan Bakar Minyak
(BBM) dan gas Liquified Natural Gas (LNG).

Harga batu bara yang
kian merosot juga memiliki andil dalam perlambatan sektor ini.
Berdasarkan keterangan Suhariyanto, harga batu bara melemah hingga 22%
YoY pada kuartal II-2019.

Industri alat angkutan juga mengalami kontraksi sebesar 3,73% YoY, dipengaruhi oleh penurunan penjualan kendaraan bermotor.

Akibat
semua hal tersebut, porsi industri manufaktur terhadap Produk Domestik
Bruto (PDB) semakin tergerus. Pada kuartal II-2019, nilainya tinggal
sebesar 19.52%, yang mana paling rendah setidaknya sejak tahun 2014.

Bahkan melihat perkembangannya, porsi industri manufaktur masih terus
berada dalam tren penurunan. Hal ini menjadi salah satu indikator kuat
bahwa masyarakat Indonesia semakin gemar berbisnis barang mentah yang
minim nilai tambah ketimbang mengolahnya menjadi produk jadi.

Jika
tren ini terus berlanjut, maka Indonesia akan sulit untuk bersaing
dengan negara-negara lain di pasar internasional. Sejauh ini ekspor
Indonesia juga terus mengalami perlambatan dari tahun ke tahun. Teranyar
pada bulan Juni 2019, BPS mencatat nilai ekspor Indonesia terkontraksi
sebesar 8,98% YoY.  

                                        <div class="dw-chart-header" id="header">                     <h1>                 <span class="chart-title">Pertumbuhan Industri Manufaktur RI (%)</span>             </h1>              <p class="chart-intro hidden"></p>             </div>      <div class="dw-chart-body content-below-chart grouped-column-chart" id="chart" style="position: relative; height: 322px;"><div class="legend" style="position: absolute; top: 10px;"><div class="cc-swatch" data-key="row-0"><div style="background: rgb(175, 210, 222) none repeat scroll 0% 0%; width: 14px; height: 14px;" class="dw-rect cc-color"></div><div data-key="row-0" class="legend-text chart-text label"><span>Kuartal II-2018</span></div></div><div class="cc-swatch" data-key="row-1"><div style="background: rgb(250, 140, 0) none repeat scroll 0% 0%; width: 14px; height: 14px;" class="dw-rect cc-color"></div><div data-key="row-1" class="legend-text chart-text label"><span>Kuartal II-2019</span></div></div></div><svg height="324" version="1.1" width="524" xmlns="http://www.w3.org/2000/svg" style="overflow: hidden; position: relative; top: -0.799999px; height: 324px;">

Bahkan sudah sejak November 2018 atau 8 bulan berturut-turut ekspor bulanan RI selalu mengalami kontraksi.

Tak
hanya ekspor, perlambatan di sektor manufaktur akan  secara signifikan
menghambat pertumbuhan ekonomi secara umum. Pasalnya, hingga saat ini
porsinya masih menjadi yang terbesar di antara industri-industri
lainnya.

Terbukti pada kuartal II-2019 (di saat manufaktur
menunjukkan perlambatan), perekonomian RI hanya tumbuh 5,05% YoY atau
merupakan yang terkecil sejak kuartal II-2017.

TIM RISET CNBC INDONESIA
(taa/taa)

Komentar