Pasang Iklan Murah disini
Berita  

Zeti Akhtar Aziz, Ekonom Perempuan Malaysia ‘Anti-Tesis’ Sri Mulyani

Zeti Akhtar Aziz [net]
Oleh: Gede Sandra
OPINI-ARTIKEL, SriwijayaAktual.com – Perdana Menteri Mahathir Mohamad beberapa waktu lalu (12/5) mengumumkan suatu Dewan Penasehat, Council of Elders,
yang terdiri dari Taipan, Mantan Menteri Keuangan, Mantan Dirut
Petronas, dan seorang mantan Gubernur Bank Sentral. 
Mahathir mengatakan
tugas dari dewan adalah mengawasi perekonomian Malaysia yang tengah
berjalan agar tetap dalam koridor: memacu pertumbuhan, mengurangi utang,
dan bersahabat dengan investasi. Satu-satunya perempuan dalam dewan
penasehat tersebut adalah Dr. Zeti Akthar Aziz, sang mantan Gubernur
Bank Sentral Malaysia.
Zeti jelas bukan makroekonomis yang biasa.Ia adalah seorang mantan
Gubernur Bank Sentral yang menjabat selama 16 tahun, sejak masa
pemerintahan Mahathir yang pertama. Ketika tahun 1998, tepat pada saat
Malaysia berada di tengah pusaran Krisis Keuangan Asia 1997-1998, ia
menjabat sebagai pelaksana tugas (acting) Gubernur Bank Sentral yang juga ketua tim kebijakan capital controlled,
sekaligus Deputi Gubernur Bank Sentral. 
Zeti adalah ekonom perempuan
yang memimpin perekonomian Malaysia mengambil jalan yang berbeda dari
doktrin IMF. Dan ia berhasil membawa Malaysia melalui krisis ekonomi
terburuk dalam sejarah Asia tersebut.
Saat itu di tahun 1997-1998, IMF menginginkan agar negara-negara
pasiennya di Asia Tenggara, seperti Indonesia dan Thailand,
memberlakukan rezim kapital bebas, kurs mata uang mengambang, dan suku
bunga tinggi (pengetatan moneter). Zeti malah memberlakukan hal
sebaliknya di Malaysia. Ia kemudian menerapkan apa yang disebut sebagai
rezim kapital terkendali (capital controlled), kurs mata uang tetap (pegged),
dan suku bunga rendah. Kendali kapital hanya diberlakukan selama
setahun, sementara kurs tetap diterapkan hingga tahun 2005 di Malaysia.
Pendukung IMF, seperti Prof. Steve Hanke dari John Hopkins University menyebut dalam sebuah artikel di majalah Forbes, “Malaysia, telah membuang jauh-jauh pelajaran (ekonomi) dari setengah abad terakhir”.
Steve Hanke menyitir kata-kata dari Friedrich Hayek’s, Bapak Ekonomi
Neoliberal, yang menyatakan bahwa karakterisasi dari kendali pertukaran
(kapital) sebagai “langkah pasti menuju jalan totalitarianisme dan .. penindasan akhir dari segala cara untuk bebas”.
Tapi Zeti memiliki alasan mengapa ia menolak pendekatan model IMF,
yang disebutnya sebagai “ortodoks dan konservatif”, dan malah melakukan
pendekatan yang bertolak belakang. Jawabannya Zeti sederhana, “untuk mencegah kehancuran (ekonomi)”. Dalam sebuah wawancara dengan majalah Wharton, Zeti menyimpulkan situasi tersebut, “Mungkin
tantangannya adalah ketika menyimpang dari pendekatan kebijakan yang
ortodoks dan konvensional dalam mengatur sistem ekonomi dan keuangan,
khususnya dalam suatu krisis atau ketika mengambil inisiatif yang
melibatkan pemecahan landasan baru.”
Perekonomian Malaysia pun sukses melalui Krisis Keuangan Asia
1997-1998 tanpa tergores sedikit pun. Joseph Stiglitz, peraih
penghargaan Nobel Ekonomi, sampai memuji Zeti sebagai “suatu contoh utama dari institusi yang bagus dan seseorang yang dari dirinya seluruh dunia dapat belajar banyak hal”.
Selama menjadi Gubernur Bank Sentral (2000-2015), Zeti memainkan
peran utama dalam mempromosikan inklusi keuangan bagi seluruh lapisan
masyarakat Malaysia. Sehingga pada tahun 2020 yang tinggal dua tahun
lagi, Malaysia akan masuk ke kelompok negara berpendapatan tinggi (GDP
Percapita di atas USD 10ribu). Pada masanya juga, Malaysia pada tahun
2009 memiliki terobosan sebuah undang-undang baru tentang Bank Sentral (Malaysia’s Central Banking Act),
yang memastikan setiap proses pengambilan kebijakan Bank Sentral dapat
lebih demokratis, transparan dan jelas sehingga menghindarkan
penyalahgunaan wewenang.
Dalam undang-undang ini diatur tujuan Bank Sentral adalah “stabilitas moneter dan stabilitas keuangan yang kondusif untuk pertumbuhan yang berkelanjutan”
dari perekonomian Malaysia. Istilah “pertumbuhan yang berkelanjutan”
memberikan Bank Sentral keleluasaan melakukan interpretasi stabilitas
harga secara lebih luas. Di sini terlihat Zeti berbeda pendekatan dari
ekonom konvensional yang hanya melulu menjaga agar inflasi rendah, tanpa
mempedulikan dampaknya yang memperlambat pertumbuhan ekonomi.
Dari pemaparan tentang Zeti Akhtar Aziz, kita dapat menangkap
perbedaan yang kontras antara dirinya dengan sesama ekonom perempuan
dari Indonesia, Sri Mulyani. Zeti lebih merupakan anti-tesis Sri
Mulyani. Bila Zeti menolak pendekatan IMF terhadap perekonomian
Malaysia, Sri Mulyani sejak dahulu hingga kini masih bangga sebagai
promotor IMF di Indonesia.
Bila Zeti dalam 18 tahun kiprahnya (2 tahun plt Gubernur Bank Sentral
& 16 tahun Gubernur Bank Sentral) sukses membawa pendapatan
perkapita masyarakat Malaysia mencapai USD 10 ribu di 2020, setara
negara maju, Sri Mulyani dalam 8 tahun kiprahnya (5 tahun Menkeu era SBY
& 2 tahun Menkeu era Jokowi) dapat membawa pendapatan perkapita
masyarakat Indonesia ke USD 10 ribu baru pada tahun 2042 nanti, atau 22
tahun lebih lambat dari Malaysia.
Bila Zeti berhasil membuat terobosan inklusi finansial dan UU
Reformasi Bank Sentral di Malaysia, Reformasi yang dilakukan Sri Mulyani
di Kementerian Keuangan Indonesia, yang digembar-gemborkan dahulu sejak
zaman SBY, telah gagal karena kini pegawai Kemenkeu tetap saja korup. (***)
Penulis adalah peneliti ekonomi politik di Lingkar Studi Perjuangan
 
Spesial Untuk Mu :  Mendagri Tjahjo Kumolo: Tersangka Korupsi Menang Pilkada Tetap Dilantik